Thursday

100 Tahun Setelah Aku Mati #42 - Obrolan Singkat

saya terbangun saat ayam di pekarangan panti itu berkokok..
hmmm terasa selruh badan ini pegal dengan sendi yang terasa kaku.. tampaknya ini akibat dari akumulasi rasa capek setelah perjalanan jauh... saya sedikit melakukan peregangan diatas kasur sambil menyaut jam tangan yang kuletakan didekat bantal.. 04.15 pagi... saya segera mengganti kaos yang saya kenakan dengan pakaian yang lebih layak untuk sholat subuh.. selepas sholat saya hanya berbaring diatas sajadah yang saya gunakan sebagai alat sholat.. badan yang masih capek membuat saya masih enggan keluar kamar, layar hp tidak menunjukan notifikasi apapun, tampaknya risa juga kecapean dan mungkin belum bangun, karena biasanya risa lah yang selalu lebih awal bangun dari pada saya.. klekk saya memutar hendel pintu itu dan mencari risa, semalam dia pamit untuk tidur bersama anak2 panti...

"risa di kamar putri zal"
dewi menyapaku saat saya melewati dapur, dia sedang membuat beberapa cangkir teh dan 2 toples keripik singkong.
saya : "dia udah bangun belom wi?"
dewi : "kamu check aja, dia semaleman hampir gak tidur"
saya :"loh kenapa kok sampe gak tidur??"
dewi :"semalem ada anak yang sakit zal, mutah2 sama demam, aku sama risa berusaha ngurangin demamnya, semalem juga udah aku minta buat pindah kamar kalo mau istirahat, tapi dia milih nemenin"
saya :"kok aku gak dikasi tau? siapa tau bisa bantuin"
dewi :"ahhh kamu udah tidur zal, keliatan capek jadi risa gak tega bangunin kamu.
saya :"oke wi, boleh masuk kamarnya?"
dewi hanya mengangguk dan seperti biasa selalu muncul senyum cantiknya disetiap kesempatan,dewi memberikan arahan letak kamar dimana risa istirahat..
saya berlalu dan masuk disebuah kamar yang ternyata tidak dikunci,
dan begitu masuk saya melihat sekitar sepuluh anak perempuan berumur 5-10 tahunan, ruangan yang tidak seberapa besar itu diisi anak sebanyak ini?? saya bergumam dalam hati,
saya menelisik satu persatu kasur yang ada disitu dan melihat sosok risa yang masih tertidur bersanding dengan seorang anak yang saya taksir berusia 6-7 tahun. sebuah kompres masih menempel di kepala anak yang sedang tertidur pulas itu, dan disebelahnya risa tidur dalam posisi miring sambil memeluk anak yang saya tidak tau siapa namanya.
"namanya Aksa zal, dia dari bogor"
dewi mengaggetkanku, baru saja saya membatin, dewi seperti tau apa yang ada dibenaku.
saya :"aksa ini apa juga yatim piatu?"
dewi hanya menggeleng
"bapaknya pergi gak tau kemana sedangkan ibunya.... mungkin juga bukan ibu yang baik sampe tega ninnggalin aksa disini, dan kerabatnya juga tidak mampu merawat aksa"
saya tertegun sejenak, orangtua macam apa itu?
saya berjlan perlahan agar tidak membangunkan anak2 karena memang hari masih sangat pagi,
tampak risa tertidur dengan pulas, tanganya memeluk aksa, seolah risa ini adalah seorang ibu yang sedang menunggui anaknya yang sedang saki, terbesit dmemoriku yang samar2 saya seperti kembali kemasa lalu.
risa mengingataknku kepada almarhum Ibu. yaa,, saya memang jarang sakit tapi ada satu ingatan dimana saya masih berumur 4-5 tahun saat sakit demam tinggi dan ibuk menungguiku persis seperti yang risa lakukan hari ini.
saya menyentuh kening aksa, panasnya sudah normal. "alhamdulillah" ucapku pelan.
saya menyibakan rambut risa yang tergerai dan mendekatkan bibirku ke telinga risa.
"nduk bangun dulu, sholat subuh "
tak butuh waktu lama risa membuka mata, masih teringat jelas bahkan sampai saya menulis ini, hal pertama yang dilakukan saat dia membuka mata adalah tersenyum... senyum yang sangat menawan, selama beberapa saat hati saya terasa terenyuh dengan hal yang sederhana itu, waktu yang singkat itu membuat pikiran saya melambung dan memaksaku mengajukan permintaan kepada Tuhan, semoga senyum ini yang akan selalu kulihat tiap bangun di pagi hari..
"mas " ucapnya dengan suara serak khas orang bangun pagi,
secara spontan perhatian risa berpaling kearah aksa, dia mengambil kompres yang masih menempel di kening aksa sambil memeriksa suhu tubuhnya.
"ahh alhamdulillah" ucapnya yang masih dengan senyum di wajahnya.
Saya :"aksa udah gapapa kok, keluar dulu yuk, kamu belum sembahyang kan?"
risa mengangguk dan beranjak pelan, sambil menggandeng tanganku kami berjalan menuju ruangan kami..
...
...
...
pagi itu saya hanya berada dikamar, sepertinya kondisi badan saya yang menuntut untuk istirahat lebih lama, sedangkan risa.. entah kemana dia, setelah subuh dia sudah tidak terlihat mungkin menengok keadaan aksa atau sedang bermain dengan anak2 lain.
sampai menjelang siang risa kembali keruangan, raut wajahnya tidak seperti biasa, saya menayakan ada apa, tapi jawaban risa selalu bilang "gapapa" . saya kira ini adalah penyakit cewek, ketikacowok tanya kenapa, jawaban semua cewek itu sama "gapapa", padahall raut wajahnya menunjukan bahwa dia sedang ada apa apa
sikap risa yang aneh berlanjut sampai malam hari, saya malah bingung sendiri dengan perubahan sikapnya.
sampai sekitar pukul 20.00 saya mengajak risa berbicara.


saya : "nduk kamu kenapa?, boleh cerita?? "
risa :"hemmmm... cuma mikir sesuatu aja mas"
saya :"boleh aku tau? "
risa menghela nafas panjang,
"aku bingung aja mas, sama orantua atau sodara2 dari anak2 yang tinggal disini.. menurutku aneh, walaupu memang sebagian besar dari mereka disini itu yatim piatu tapi beberapa kasus dari mereka ada yang ditelantarkan gitu aja saama orangtua mereka, aku heran aja kok ada yang tega kayak gitu,bahkan binatang kayak buaya aja bakal njaga anaknya sampe bisa cari makan sendiri, lha ini manusia kok gitu, beneran mas aku gak habis pikir... kadang aku ngebayangin kalo aku udah jadi ibu, aku gak akan biarin anaku begini, aku bakal bawa dia kemanapun, sesulit apapun itu, atau mungkin hidupku besok juga susah, aku sebisa mungkin bakal ngrawat anaku sendiri, ahhh mas kamu bikin aku tambah sebel deh "
saya hanya diam, sesekali tersenyum mendengar jawaban risa...

"yaa nduk, akupun berpikir demikian, walaupun aku juga yatim piatu, tapi kedua orangtuaku sangat... sangat.. dan sangat care sama aku. tadi aku juga mikir seandainya aku jadi seorang bapak .... semoga aku bisa jadi bapak seperti almarhum bapaku yang bertanggung jawab untuk istri dan anaknya. aku beberapa kali menghayal tentang masa depan, setelah cita2ku jadi dokter tercapai kemudian apalagi??
aku harus punya cita2 keduaku, dan aku berdoa semoga kamu menjadi sekuel kedua dari impianku nduk..
aku gak bisa jamin kalau kita adalah jodoh, aku cuma bisa berusaha menyiapkan dan memperbaiki diri, agar kamu menjadi lanjutan kisah hidupku. bertahun-tahun bersamamu membuat aku yakin nduk..
kamu akan jadi Ibu yang baik"


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

100 Tahun Setelah Aku Mati #41 - Risa Dan Dewi

“yang itu mas, aduh kelewatan kan” risa berseru sambil menggoyang2kan punggungku yang sedang khusuk menyetir,
“bukan disana nduk, tapi yang itu, ahh kamu malah ngaco” jawabku tak kalah ketus, kami sedang ribut masalah jalan menuju ke panti tempat tinggal dewi, Risa yang sedari tadi nyerocos memaksaku bersuara tidak kalah keras disana, sekian lama denganya mungkin saya akan ketularan penyakit bawelnya.
Kami berdua memang buta dengan peta Jakarta, jalanan yang macet dan bercabang membuat kami pusing, apalagi waktu itu adalah jam istirahat kantor, jadi benar2 membuat jalanan bertambah ramai.
Mau tak mau kami harus menggunakan teknologi GPS (gunakan penduduk sekitar) dan akhirnya setelah 2 jam mencari alamat kami sampai di tempat dimana dewi tinggal..
Sebuah bangunan yang terlihat berumur namun terawatt, dihalaman depan tampak banyak anak-anak berkisar usia 5-10 tahun sedang bermain bola plastik yang sudah penyok, pagar besi berkarat setinggi dada mengelilingi bangunan itu, didepan ada sebuah gapura kecil dengan sebuah papan kayu usang bertuliskan “Panti Asuhan xxxxx “ sebagai penanda bahwa kami tidak salah alamat.
Selama beberapa detik saya dan risa saling berpandangan, saya menunggu kode dari risa untuk turun dan memencet bell di pintu gerbang kecil itu, “ayo mas, nunggu apa?” tanyanya sambil mengelus lenganku. Saya hanya mengangguk sambil turun dari mobil dan memencet bel yang berada persis disamping pagar, ting tong ting tong, perlu beberapa kali saya memencet sampai seorang ibu paruh baya muncul dengan sedikit berlari menghampiri kami dan membuka gerbang.
“selamat siang.. ada yang bisa saya bantu?” Tanya ibu itu dengan tersenyum
“iya bu, maaf mengganggu, saya mau Tanya apa benar Dewi Iryana tinggal disini?, saya Rizal teman kuliahnya, kesini membawa titipanya yang ketinggal pas di jogja kemarin” jawabkusambil menyalami ibu itu.
“ohh mas rizal ini to yang sering diomongin sama Dewi, saya Tarsih mas, pengurus panti. ayo mas masuk dulu, dewi lagi ngurus anak-anak, ayo mas mobilnya dimasukan dulu” ibu itu mengajaku dengan wajah senang,
Saya kembali kedalam mobil dan disambut risa dengan senyum manisnya,
Risa : “beneran ini kan mas tempatnya?”
Saya :”betul nduk, yok ahh markir mobil dulu” jawabku sambil memasukan mobil kedalam pekarangan panti asuhan itu, saya dan Risa turun dari mobil dan melihat belasan anak-anak kecil yang berhenti bermain, mereka menatap kami dengan tatapan yang lucu. Mereka tiba2 berlari dan menghampiri kami sambil berebut bersalaman dengan kami, tidak ada yang bisa saya lakukan selain menyambut tangan-tangan kecil mereka sambil tersenyum, saya menoleh kearah risa yang sedang berjongkok dan tersenyum sambil menyalami masing2 dari anak2 itu, beberapa kali dari lisanya bertanya “adek siapa namanya” , memang Risa ini sangat mudah beradaptasi.
Bu Tarsih :”ayo anak2 mas sama mbaknya jangan diganggu, biar istirahat dulu, ini tamu dari jauh”
Bu tarsih berseru agar anak-anak berhenti mengerumuni kami,
Risa :”ahh gak masalah bu, namanya juga anak-anak  “. Risa menjawab dengan nada sopan sambil menyalami bu tarsih.
Bu tarsih :”yasudah sekarang mas sama mbak masuk dulu di ruang tamu ya, biar saya manggil dewi dulu”
Bu tarsih mengajak kami masuk ke ruang tamu, sambil sedikit berbincang dengan saya sekedar berbasa-basi dengan pertanyaan ringan, sedangkan risa dia malah belum beranjak dari tempatnya tadi dan masih asik berkenalan dan bercanda dengan anak-anak panti, dia memang senang dengan anak-anak, tak heran jika sudah bertemu keponakan yang masih anak2 dia selalu jadi tante favorit.
“nduk, masuk dulu yuk” seruku sambil melambai mengajak risa masuk.
“iya mas, bentar!!, ehh adek-adek, kakak tinggal dulu ya.. nanti kita ketemu lagi” risa berpamitan dengan anak-anak itu sambil sedikit berlari kearahku, dia memegang lengankku sambil tersenyum senang, entah apa yang membuat dia terlihat demikian.
Kami diminta duduk dan menunggu sebentar sementara bu tarsih beranjak untuk mencari dewi yang katanya sedang berada di salah satu kamar anak.
Saya melirik kearah risa yang sedang asik memandang sekeliling ruangan dengan senyuman yang tak lepas dari bibir tipisnya.
Saya :”kenapa nduk? Sumringah banget??”
Risa :”hehe gapapa sih mas, seneng aja liat anak-anak lagi pada maen, tapi disatu sisi aku juga merasa…….”
“Rizal???”
Belum selesai Risa berucap dewi sudah muncul menyapa kami, wajahnya tampak sedikit kaget melihat saya dan risa mampir ke tempatnya.
Dewi :”kamu kok sampe sini?, gak bilang2 lagi, Dasar!!”
Saya :”hehe gak ada waktu buar omong wi, lagi pula aku kesini juga buat ngasi barang kamu yang ketinggalkan, oh iya kemarin kamu belum kenalan kan?, nduk kenalin ini Dewi, dan Dewi kamu tau ini siapa”
Risa :”hallo Dewi  “
Dewi :”Risa  aku dah sering denger tentang kamu ”
“zal, semua udah baik kan?? Kamu digamparin sama risa? Kok ampe bonyok gitu?”
Tanya dewi dengan sedikit berbisik,
Saya :”ahhh panjang ceritanya wi” jawabku asal, karena enggan mengingat peristiwa tempo hari
Dewi :”yaudah, ayo aku anter ke kamar dulu yuk, tapi kamarnya Cuma ada satu yang kosong, kalian pake kamarku aja gapapa kan?”
Risa :”ehh gapapa wi, aku biar tidur dideket anak-anak aja gapapa ya, yayaya aku pengen deket anak-anak pleaseee”
saya :”hooh gapapa nduk, jadi aku tidurnya sekamar sama dewi yak “
Risa :”ihhhh masss… apaan sih? Awas aja ya kalo sampe gitu, heran aku sama kamu mas, pulang dari Ausie kok jadi mesum gitu otaknya, wii ati2 ya sama dia kalo disana “
Dewi :
Tak terasa kami sudah menghabiskan satu jam lebih untuk mengobrol, dewi dan risa mereka sangat cepat akrab satu sama lain, dewi yang setauku pendiam tiba2 jadi banyak bicara saat dekat dengan risa, ternyata benar dugaanku, mungkin besok akan saya jadikan bahan penelitian dengan tema “penyakit menular cerewet” .
Hari semakin sore, saya dan risa sudah dipersilahkan mandi dan sedikit beristirahat di rungan kecil yang sudah disediakan untuk kami, saya sedang duduk sebntar sambil meminum sisa teh botol yang saya bawa di tas, sementara risa, entah apa yang dilakukan. Dia asik membongkartas sepertinya mencari sesuatu.
“nduk, cari apa kamu?”
“eh ini mas, akucari camilan nihh”
“ngemil terus, ntar gendut lohh”
“ihhh bukan buat aku mas, buat anak2..kemarin kita kelupaan gak bawa oleh2 buat mereka kan?, aku disini ngerasa kasian sama mereka mas” pandangan risa tidak bergeming dari tasnya, sedangkan tanganya sibuk menata beberapa bungkus snack yang sudah kami beli untuk bekal perjalanan kemarin.
“jangan gitu nduk” jawabku dengan serius
“jangan gitu gimana mas?, apa mas gak kasian sama mereka anak2 sekecil itu udah tinggal disini?” risa menoleh kearahku dengan tatapan bertanya.
“bukan begitu nduk, kamu tau Aku sama seperti mereka, walaupun aku enggak pernah tinggal di panti tapi kerinduan tentang kasih sayang orangtua juga sering aku alami. Selama ini aku menghindari satu sikap dari orang lain nduk.kamu tau apa itu? Itu adalah belas kasihan”
Tangan risaberhenti bergerak, risa yang dari tadi berada di pojok ruangan kini beranjak dan berjalan kearahku kmudian ikut duduk dismpingku. Dia mengusap lenganku lembut, raut wajahnya seperti menyimpan pertanyaan.
Risa :“maksud mas?, bukanya rasa kasian itu menunjukan simpati kita?” risa bertanya lagi.
Saya :“itu dua hal yang berbeda nduk”
Saya :“rasa simpati itu itu seperti kamu tertarik kepada seseorang entah itu lewat kepintaranya, wibawanya dll. Tapi kasian adalah sikap dimana nuranimu berkata bahwa orang ini sangat menderita, orang ini butuh dibantu, orang ini lemah, orang ini tidak bisa berbuat sesuatu jika tidak ditolong dll. Aku tau maksudmu baik nduk,Cuma sedikit sharing aja sih.mungkin mereka masih anak2, tapi mereka akan dewasa juga dan orang yang dibesarkan dengan belas kasian akan tumbuh jadi orang yang selalu mengharap belas kasiahn orang lain, dan percayalah orang seperti itu tidak akan pernah hidup bahagia”
risa hanya diam, tapi dia tersenyum manis, memang gadis ini dibekali dengan otak cerdas jadi tiap obrolan kami jarang sekali terjadi salah paham...
Risa :”aku paham mas,  maafin aku ya, betul katamu mas”
Risa menyandarkan dagunya kebahuku sambil berbisik manja.
“tapi kalo kita keluar beli camilan yang banyak buat anak2 gak papa kan mas?”
Saya tersenyum mendengar permintaan risa...
“kalo itu boleh  “
Akhirnya kami pergi sebentar menuju sebuah minimarket yang tidak jauh dari panti itu, saya memilih beberapa makanan yang tahan lama seperti manisan dan asinan, tidak lupa beberapa kaleng susu saya ambil, sedangkan risa yaa namanya perempuan, dia belanja dengan tanpa aturan apapun makananyang bisa masuk kedalam keranjang belanjaanya akan dia bawa, dan jika kalian tau jumlah barang yang risa ambil kalian mungkin akan heran.. -__-
...
“ayo adik2 ini kakak bawain makanan ayo semua ambil”
Risa berbicara dengan sekumpulan anak yang mengerumuninya yang membawa empat plastik ukuran besar yang berisi penuh dengan snack..
Segera sajabelasan sampai puluhan anak2 itu mengrubuti risa yang tampak tersenyum sangat lepas..
Saya memandangya dari kursi yang tidak jauh dari tempat risa berdiri sambil ikut tertawa melihat risa yang mulai kewalahan karena dikeroyok anak2 yang saling berebut snack..
“kalian gak perlu repot2 kayak gitu”
Suara dewi mengalihan perhatian saya, dia duduk sambil ikut tersenyum, sesekali dia menasihati anak2 yang membuat risa tampak kerepotan..
“aku sama sekali tidak kerepotan wi” jawabku dengan santai,
Dewi beranjak dan ikut membantu risa untuk membagikan snack2 itu,kedua gadis lembut itu memperlakukan anak2 itu seolah mereka adalah keluarga mereka.
saya sekali lagi melamun dan memandang dua gadis didepanku..
“sempurna” ya kata itu cocok menggambarkan masing2 dari personal Risa dan Dewi,
Cantik, briliant, ulet, dan mereka memeliki pesona yang saya jamin akan membuat laki2 normal jatuh hati, pesona itu adalah ketulusan mereka.
Dewi adalah sosok yang mengajari saya tentang seburuk atau sekacau apapun keadaanmu saat ini kamu akan selalu punya celah untuk mensyukuri keadaanmu saat itu, sedangkan risa dia adalah orang yang menemaniku dalam setiap inci perjalanan hidupku, dia mengajariku bahwa ketika seluruh dunia seolah tidak berpihak kepadaku Tuhan akan mengirimkan satu orang untuk menguatkanku, dan orang itu adalah dia. Risa juga merupakan jawaban dari apa yang diajarkan dewi padaku, yaa risa adalah hal atau celah yang harus aku syukuri keberadaanya..
Beberapa kali terbesit diotaku, bahwa Tuhan selalu memberikan hal baik disetiap kesulitan. Mungkin tuhan mengirimkan hal baik itu dalam bentuk manusia bernama Risa dan Dewi itu..atau mungkin mereka sebenarnya bukan manusia, melainkan malaikat yang dikurung dalam wujud manusia.
Saya tidak sadar larut dalam lamunan itu sambil senyam senyum sendiri, sampai mendadak ada suara yang membuyarkan lamunanku.
“mas malah senyam senyum sendiri, ngelamun jorok ya?? Sini bantuin aku, ini berat buanget taukk”
Haha risa dasar risa, ucapku dalam hati baru saja saya memujinya dalam hati kini dia sudah mengganggu ketenanganku.


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

Wednesday

100 Tahun Setelah Aku Mati #38 - Sesuatu Tak Kasat Mata Di Hotel Ini

malam itu saya dan risa tidak berhasil menemukan rest area, sampai jam 11 malam kami masih menyusuri jalanan kabupaten bandung,
saya :"laper nduk??" tanyaku kepada risa yang sekarang sudah mengenakan jaket tebalnya karena kedinginan,
risa :"kita berdua laper mas "
kami berhenti sejenak untuk makan malam di sebuah warung kaki lima yang menjual nasi goreng, hhmmm cukuplah untuk mengenyangkan perut kami malam itu,
udara malam itu memang sangat dingin, ditambah hujan yang sedari tadi tidak berhenti benar2 membuat saya dan risa menggigil..
kami berhenti disebuah penginapan, karena risa bersikeras untuk saya tidur cukup, kalau sudah begini saya hanya bisa memenuhi permintaanya,
saya memarkirkan mobil dibasemen sebuah hotel yang berada di dekat jalan lintas provinsi..
kami segera check-in dan memesan 2 kamar,
saya :"selamat istirahat nduk "
risa :"selamat istirahat juga mas "
kami masuk ke kamar kami masing2 untuk istirahat,lelah dan kantuk, itulah hal yang paling terasa, sayamerebahkan diri di kasur, hemmm..
untuk kamar vip hotel ini terlalu murah, 100.000 untuk semalam, fasilitasnya cukup lengkap hanya saja dindingnya berkerak, jarang dibersihkan.. sayang sekali untuk hotel bagus tapi kurang terawat..
rasa yang ngantuk sedari tadi tidak kunjung terlelap, 15 menit, 30 menit, 1 jam, saya cuma jungkir balik diatas kasur, adaapa ini?
gerah, tidak bukan gerah yang seringkalian rasakan saat kepanasan, gerah ini berbeda, orang jawa menyebutnya singup,
saya mencoba menghiraukan rasa aneh itu dan memencet tombol ac ke suhu dingin maksimum sambil kembali masuk kedalam selimut,
klek.. klekkk.. klekkk.. dugg.. dugg.. dugg....
suara itu berada persis disebelah kasur dimana saya berbaring,
"jadi ini penyebabnya" gumamku didalam selimut, saya melempar selimut yang menutupi seluruh tubuh saya, dan...
kosongg... aneh, baru saja saya menangkap hawa penghuni hotel ini, tapi langsung lenyap begitu saja.. hawa singup itu masih ada,
ada sebuah jendela di kamar itu, seingatku saya sudah menutup gordenya, tapi kini gorden itu sudah terbuka, apakah menakutkan?? tidak, itu sama sekalitidak menakutkan, yang menakutkan adalah sosok wanita yang ada diluar jendela. dia bisa kalian sebut kuntilanak, hanya saja kuntilanak sering menunjukan diri dengan pakaian putih, tapi kali ini jin itu mengenakan kain hitam, dia menempel dibalik jendela kamar ku yang berada dilantai 3 hotel ini, dia menempelkan tanganya yang memiliki kuku panjang berwarna hitam, tangan satu2nya tidak henti-hentinya mengetuk kaca jendela kamarku, seolah meminta perhatianku, rambutnya panjang dan awut2an, wajahnya buruk sekali dengan kepala sompal dan memperlihatkan otaknya yang terlihat pink bercampur noda darah hitam yang mulai mengering, dia mendekatkan kepalanya dan membuka mulut, sambil menjulurkanlidah berwarna ungu kebiruan dia menjilat2 kaca pada jendela itu..
"siall,, mereka tau aku sedang tidak sehat" gumamku dalamhati..
saya mendekat ke jendela itu, saya menempelkan tangan ke kaca yang saya sejajarkan dengan tangan makhluk itu, saya mengamatinya sekali lagi dan memperhatikan bentuk kuntilanak itu, dia melayang, rambutnya yang panjang bahkan sampai menjuntai ke tanah yang berada sekitar 15 meter dibawahnya..
"audzubillahiminasaitonirrojim" saya mulai membaca beberapa doa dan.. wushhhhh makhluk itu terbang menghilang,
kuntilanak yang mengerikan itu pergi menjauh, saya melangkah munfur dan duduk dikasur sambil meminum segelas air putih yang ada di meja dekat ranjang,
glekkk.. bruuuuufttttttt...... saya menyemburkan air itu.. rasanya tidak enak sekali dan berbau pesing...
saya dikerjai lagi. kenapa selalu saja ada hal menyebalkan terjadi padaku..
saya menelfon pelayanan kamar,dan yang menjawab hanyalah suara terkekeh, saya membanting gagang telefon itu dan berjalan menuju pintu.. sialll sekali lagi sialll pintu itu terkunci dengan sendirinya,.....
.
.
saya masih bisa tenang, saya mencoba menarik nafas dalam2 dan mulai membaca amalan doa.. dan tiba2
kringggggggg... handphoneku berbunyi...
"Risa" gumamku saat melihat tulisan yang tertera dilayar, saya buru2 mengangkatnya..
"hallo nduk?? ada pa?"
risa :"mas... tolong, aku takut banget, ada sesuatu dibawah kasurku" suara risa terdengar ketakutan dan cemas..
degg... risa juga diganggu, dan disini saya mulai khawatir, saya mencoba menenangkan risa,
saya :"tenang dulu nduk, udah kamu cek dibawah kolong??"
risa :"udah mas, dan kosong"
saya :"yaudah mungkin perasaanmu aja"
risa :"bukan mas... ternyata bukan dibawah kolong, ada sesuatu didalam kasurku! didalam springbeth!ada sesuatu didalamnya, dia memukul2 springbet dari dalam, seperti ada yang mau keluar dari dalamnya! mas tolong, aku takut banget, kamarku kekunci, apa kamu gak denger aku gedor2 dan teriak dari tadi?, mass !!!!. itu aaaaaa!!!"
tuttt tutttt tutttttttttt.....
saya mendobrak pintu didepanku dan berharap akan terbuka seperti pada film yang sering kutonton, dan nihil malah lenganku yang kesakitan. saya berteriak meminta pertolongan dari luar tapi semua masih sama heningnya dengan tadi, yang terdengar hanya suara kodok dan jangkrik diluar sana, saya tidak khawatir dengan diri saya, hal yang membuat saya cemas adalah keadaan risa di kamar sebelah...
.
.
tiba2 dari arah belakang saya merasakan sesuatu yang hangat, aura jelek... saya mendekat kemana energi negatif itu berasal..
jendelaa.. saya mendekati jendela, saya lupa menceritakan kalau persis di seberang jendela kamar saya ada sebuah pohon besar, dan disana sekarang sudah terpampang pemandangan yan mungkin akan membuat pingsan orang yang tidak punya mental bagus dalam hal ini.
saya melihat 1,2,3,4,5....... 19 mayat!! ya sosok mayat yang digantung di pohon itu ! pria,wanita,manula,bahkan anak2! mereka tergantung dibagian leher dengan seutas tali di masing2 kepala..
saya mulai gentar.. saya melangkah mundur dan mulai berkeringat, saya memutar badan berusaha mengalihkan perhatian dri hal mengerikan itu, kamu tau? begitu saya memutar badan springbeth yang tadi saya tiduri tiba2 bergerak ! persis seperti yang dialami risa.. saya menarik nafas dalam2 dan menyaut sebuah garpu roti yang ada dimeja, dan dengan sekali lompatan saya naik ke kasur itu sambil menusukan garpu dan membuat sayatan besar untuk melihat makhluk apa didalamnya...
hyaaaa.. hahahaha
sebuah kepala yan saya sendiri bingung mengidentifikasi sosok ini, berkepala merah daging, dia bertanduk dan bertaring, seluruh kepalanya seperti dikuliti kecuali disekitaran bibirnya, tampak bekas robekan2 di sisa kulitnya yang masih menempel di bibir yang hanya seperti tertempel, matanya tidak berkedip, karena tidak memiliki kelopak mata, telinganya tidak ada dan terlihat bekas potongan di tempat yang seharusnya ada telinganya, makhluk itu tertawa dengan suara menggelegar, dia muncul dari dalam sobekan springbeth itu..
bau busuk darinya membuat saya ingin mutah, saya melompat turun dari kasur,
"berhentilah menggangguku !" teriaku kepada sosok kepala itu yang kini mulai bangkit, dia memperlihatkan tangan kirinya yang legam seperti dibakar, dan tangan satunya hanya sebatas lengan, cairan kental berwarna hitam kemerahan menetes dari lengan yang terpotong itu, dad dan perutnya seperti buah semangka yang dikeruk sendok, ya badanya seperti dilubangi, dan memperlihatkan organ dalamnya yang berantakan, ususnya terburai panjang dan seperti berbelatung!!


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

100 Tahun Setelah Aku Mati #39 - Jawadwipa

makhluk itu keluar dari dalam kasur, kakinya panjang sebelah membuat jalanya terpincang dan mendekatiku yang perlahan melangkah mundur, terdapat kesenjangan energi

dari makhluk satu ini dibanding puluhan atau mungkin ratusan makhluk halus yang menjadi penghuni disini, yang satu ini benar2 kuat,umurnya mungkin sudah sangat tua,

tidak jelas apakah dia negatif atau sebaliknya, situasi saya benar2 terpojok dimana saya dikepung didalam kamar bersama makhluk kuat yang jelas memiliki pengikut

banyak, sedangkan dikamar sebelah mungkin risa sedang menjerit2 ketakutan karena terror semacam ini, bulu kuduk saya merinding, danudara disekitar saya menjadi sangat

dingin, jantung saya semakin berdetak kencang saat makhluk ini semakin dekat sambil tanganya berusaha menggapai2.
dia samasekali tidak berbicara, dia hanya mengerang dan seperti menahan sakit.
saya meraih dayly bag yang berada di samping saya, dan buru2 mencari cincin pemberian kyai, sial saya benar2 tidak berkutik, dia sungguh sangat kuat..
"pergi!!, apa yang kalian inginkan???" saya berusaha berkomunikasi denganya,
lagi2 dia tidak menjawab, dia hanya mengerang dengan suara parau, saya menoleh kebelakang karena mendengar panggilan, saya menoleh kejendela dan dibalik kaca jendela

belasan sosok yang tergantung tadi sudah menempel dan menggedor2 kaca, seolah mereka ingin merrangsek masuk secara bersamaan.
beggggg.. sosok yang saya takutkan memegang pundaku,
"hyaaaa!!!!" saya memberontak sambil membaca amalan penangkis, dan.... percuma, sama sekali percuma dia malah melanjutkan bacaan ayat kursi yang saya lafalkan,
"sssssghhhh farki!! sakha sabhi tshaa!!" sebuah ucapan jelas tapi saya tidak tau artinya, makhluk itu berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak saya mengerti,
"syikha farsss!!, kashhh hull!!" dia berseru,lagi2 dengan bahasa yang tidak saya mengerti..
..
dia melemahkan pegenganya, dan bettthhhh..... saya melepaskan diri dari peganganya, bagian pundaku yang dipegangnya terasa panas sekali, saya berlari menerobosnya

dan.. saya malah terhuyung kebelakang.. ahhhh sakit sekali, kepala saya terbentur pinggiran meja..
saya berusaha berdiri..
"kenapa?? apa yang kalian mau??"
...
...
...
...
"tolong... tolong... tolong" suara ramai dengan nada sendu terdengar dari luar jendela, makhluk2 diluar berteriak minta tolong, sedangkan sosok didepanku masih

mengerang2 dan meracauu dengan bahasa yang sama sekali tidak bisa saya artikan..
saya merasakan hawa kesedihan dan ketakutan, bukan berasal dari saya, tapi dari sluruh makhluk itu, mereka tampak ketakutan dan kesakitan, saya menatap sosok

mengerikan didepanku, dia berhenti meracau dan melihatku dengan sorot mata yang aneh, cukup sulit menjelaskanya pada kalian saya cuma bisa memahami, bahwa mereka tidak

bermaksud buruk..
hmmmm....
saya mengheningkan cipta, mencoba menekan emosi dan meningkatkan kepekaan indra saya, makhluk itu menyentuh pundak saya sekali lagi, kali iini dengan pelan..
bulu kuduk saya merinding kembali, seketika saya merasakan sensasi dingin disekujur tulang saya, saya menutup mata dan membaca beberapa doa, saya memohon petunjuk dan

perlindungan kepada Allah, dan begitu membuka mata makhluk itu masih ada, ada sebuah senyum yang tersungging dibibirnya,
saya mengajaknya berkomunikasi kembali
.
saya :"siapa kamu? dan mereka? kenapa menemuiku??"
"namaku ...... (tidak bisa disebutkan), kami mau memberitahumu tentang rasa sakit"
saya :"rasa sakit???"
...... :"yaa.. rasa sakit.. dari mereka, dan dariku... paling tidak sisa2 dari rasa sakit semasa kami benar2 hidup"
saya :"kalian bukan manusia, kalian belum pernah jadi manusia"
....... :"yaa, kami adalah setengah dari mereka yang pernah bernar2 hidup, bukan ruh, kami hanya menyerupai mereka"
saya :"lalu ada kenapa kepadaku kalian menunjukan itu?"
...... :"untuk mengajarimu"
saya :"apa untungnya bagi kalian? saya tidak akan membuat perjanjian dengan kalian!"

...... :"kami tidak akan membuat perjanjian denganmu, kamihanya menunjukan pembelajaran untuk kalian yang masih hidup, akan kubawa kamu ke masa lalu dimana negeri ini

adalah negeri yang kaya tapi miskin, negeri yang haus pertumpahan darah, negeri yang serakah, negeri yang dihuni manusia picik, negeri dengan rakyat yang sengaja

dibuat sengsara.
..
..
..
akan sulit kalian membayangkan hal ini,begitu kalian membacanya mungkin akan bilang, ini terlalu mengada2, tapi silahkan percaya atau tidak. saya benar2 mengalaminya..
saya merasakan ruangan berputar,seolah seperti perpindahan scene dalam film fantasi, ruangan yang awalnyadi kelilingi dinding beton kini berubah menjadi papan kayu dan

anyaman bambu, springbeth di ruangan itu berubah menjadi dipan bambu, dan perkakas-perkakas dapur lama..
sosok yang tadi kini sudah berubah bentuk menjadi sosok manusia normal
seorang yag mungkin saya taksir berumur 40 tahun, jenggot dan kumis menghiasi wajahnya,rambutnya panjang dan diikat dengan di gulung pada ujung rambutnya, dia memakai

alas kaki bakiak kayu, mengenakan celana entah model apa, saya bingung mendiskripsikan pakaian yang dia kenakan, dia mengenakan pakaian yang tidak tergambar pada buku2

sejarah yang sering kalian baca.
"apakah kamu lebih nyaman melihatku seperti ini??"
saya mengangguk sambil sesekali melirik samping kanan dan kiri, saya tidak akan mengurangi tingkatkewaspadaan saya, saya masih belum percaya denganya.
"ikuti saya, dan selamat datang di jawadwipa"
saya melangkah dan mengikuti kemana diapergi.. kami keluar rumah dan berjalan di sebuah jalan setapak, saya masih bisa mengingatnya sampai sekarang, tanah yang masih

basah seperti habis diguyur hujan, pohon2 tinggi masih menjulang di kanan kiri, semilir angin terasa dingin, karena saya berada di waktu sebelum fajar, dan yang tidak

bisa saya lupakan adalah bau anyir darah di tempat itu...
..
kami masih berjalan cukup jauh, dan tidak ada satu katapun terucap dari kami, saya sebisa mungkin diam sambil menganalisa kejadian ini.
di jalan kami benyak berpapasan dengan orang, mereka terlihat seperti prajurit dengan warna pakaian serba hitam, beberapa dari mereka menunggang kuda yang menarik

sebuah gerobak dengan roda kayu tanpa ban..grobak2 itu mengangkut hasil bumi seperti gabah,kelapa,kapuk,palawija dll mereka membawa dengan jumlah besar..
mereka mengabaikanku, karena saya disini menjadi tak kasat mata, tapi berbeda dengan raden, ya mungkin nama itu yang bisa saya sebutkan, karena orang2 yang menyapanya

memanggilnya dengan nama awal raden, dia seperti orang yang sangat dihormati disini..
"ini yang pertama,negeri yang kaya tapi miskin" dia berucap sambil menoleh kearahku yang dibelakangnya..
saya :"apa maksudmu??"
raden :"kamu melihat hasil bumi itu, bahan pokok itu?"
saya :"ya saya melihatnya"
raden :"kaya bukan?, bahkan saking banyaknya harus ditarik menggunakan kuda untuk membawanya"
saya :"apa maksudmu??"
raden :"kamu melihat hasil bumi itu, bahan pokok itu?"
saya :"ya saya melihatnya"
raden :"kaya bukan?, bahkan saking banyaknya harus ditarik menggunakan kuda untuk membawanya"
Saya :"lalu dimana salahnya?"
raden :"kamu akan segera tau"
suaranya terdengar parau, saya masih berfikir mengenai tujuanya mengajaku kesini, dan apa kepentingan mereka menunjukanya padaku,,
mungkin sekitar 1 km kami berjalan dan sampailah kami di sebuah perkampungan.
sebuah gapura kecil menjadi tanda masuk perkampungan itu, saya melihat sebuah prasasti yang tidaj dapat saya baca,
aksara yang digunakan jauh berbeda dengan aksara jawa yang sering saya lihat, bahasa yang digunakan pun sangat berbeda dengan percakapan orang sunda maupun jawa,
pandangan saya menerawang melihat perkampungan itu, di kanan kirinya terlihat ladang dan sawah yang sudah selesai panen, saya menelisik ke sistem irigasi yang dibuat

baik, bahkan pada jaman itu masyarakat sudah punya pengetahuan tentang irigasi,
saya memandang rumah2 yang terbuat dari kayu yang berjajar di diperkampungan itu, saya dan raden berkeliling perkampungan dan berjumpa beberapa dari warga yang tampak ketakutan melihat raden, mereka berlutut dengan setengah berjongkok, dan raden hanya diam tanpa sedikitpun melirik kearah mereka yang bersimpuh di kanan kirinya,
saya mengambil kesimpulan ini adalah era kerajaan hindu, terlihat dari bangunan pure dan sistem tata rumah yang di bedakan berdasarkan kasta,
"kamu penguasa disini?" saya menanyakan pertanyaan pertama..
raden :"ya, tapi saya keturunan sudra"
sudra?? setau saya sudra adalah golongan terendah dalam sistem masyarakat kasta...
"lihat itu"
raden menunjuk bangunan tanpa atap yan beralas ubin batu yang luas, dan diatasnya ditaruh hasil bumi yang sangat banyak menumpuk, saya melihat ini seperti sebuah

lumbung pangan..
saya :"apa itu??"
raden :"inilah yang saya maksud, kaya tapi miskin"
..
..
saya memperhatikan beberapa emban kuli panggul memasukan bahan pangan itu ke grobak2 yang siap ditarik kuda..
"kerajaan sedang menghadapi perang, utk meluaskan wilayah ke daerah lain, demi keegoisan seseorang masyarakat kampung harus menderita, mereka diharudkan membayar upeti yang sangat tinggi untuk peperangan yang konyol, mereka harus menyerahkan prmuda untuk dijadikan prajurit dabnputri2 mereka juga harus direlakan menjadi pecun dan pelayan, mereka menyebut kebijakan, tapi saya melihat ini adalah ketamakan dari penguasa"


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

100 Tahun Setelah Aku Mati #40 - Teka-Teki

"kerajaan sekarang terpecah oleh edeologi dan ego dari masing2 pewaris kekuasaan, mereka berlomba untuk meluaskan wilayah masing2 sampai mereka lupa dengan rakyat"
saya :"lalu apa yang kamu lakukan?, bukanya kamu adalah penguasa?"
raden :"saya hanyalah adipati disebuah kadpaten di wilayah pegunungan, segala macam cara sudah saya lakukan untuk mencegah ini semua, tapi nihil, suara saya tidak akan terdengar karena saya hanyalah keturunan sudra"
saya :"sebenarya apa yang mau kamu katakan?"
raden :"sebentar lagi kamu akan tau, sebaiknya siapkan dirimu"
.....
...
...
scene berpindah lagi,waktu berjalan normal ketika bangunan2 itu telah terbakar dan roboh, pure2 yang hancur dan warga kampung yang sekarang sudah dikumpulkan di tanah lapang..
dan.. raden tidak berada didekatku, dia berada didepan krumunan warga sambil berlutut, didepanya seorang pemuda berdiri tegap sambil berkacak pinggang
suara riuh warga yang seolah ketakutan membuat saya tidak bisa mendengar suara raden dan orang didepanya, saya berlari menghampirinya, dikanan kiri terlihat prajurit yang berjaga,
prajurit2 itu berbeda dengan prajurit yang sebelumnya, mereka menggunakan pakaian berwarna coklat, masing2 dari mereka membawa galah setingi 1,5 meter dengan ujung besi runcing..
mata saya menangkap kepulan asap hitam di balik beberapa prajurit itu, mereka seperti membakar sesuatu, entahlah apa itu, tapi saya meilhat potonga tubuh manusia diantara tumpukan benda terbakar itu, yang kini memunculkan aroma daging yang terpanggang..
saya sempat tertegun melihatnya, ternyata yang dibakar adalah mayat dari prajurit yang sebelumnya saya lihat bertugas membawa bahan makanan tadi, saya sebisa mungkin menyadarkan diri bahwa ini hanyalah ilusi, ini hanyalah gambaran dari masalalu..
saya berlari lagi kearah raden yang berada di tengah lapangan bersama mungkin sekitar 200 orang warga..
..
...
cleng.. cleenggg
2 bilah pedang kecil dimainkan oleh seseorang, raden sama sekali tidak bergerak, dia hanya duduk tersimpuh.. saya semakin mendekat, sampai dengan jelas saya dapat melihat tanganya terikat tali rotan..
sorang lagi yang hanya berkacak pinggang dari tadi kini mulai terdengar pembicaraanya, walaupun sama sekali saya tidak mengerti apa maksudnya, tapi tampak betul kalau dia tidak senang, dia tampak marah kepada raden
suara tangis anak kecil dan wanita bergemuruh, saya tidak melihat pemuda disini, di kampung ini isinya hanya wanita dan manula, beberapa laki2 dewasa tampak tidak sehat dengan wajah pucat dan anggota tubuh yang cacat..
ada apa ini??
kepala raden dimasukan kedalam sebuah pasung kayu secara paksa, sebuah mahkota kecil yang menghiasi kepala raden diambil, rambut pancangnya dipotong dengan pisau kecil hingga nyaris gundul,
degan perlakuan kasar seorang bertubuh tambun itu memptpng rambut raden hingga membuat kepalanya berdarah2 terkena sayatan pisau..
apa yang saya lakukan? saya sama sekali tidak bisa berbuat apa2, karena percuma. ini semua hanya memori dari masalalu yang diputar kembali, saya hanya diam sambil melihat untuk mencari sebuah kesimpulan.
telinga saya sam[ai sakit mendengar jeritan minta ampun dari warga kampuung itu, mereka terlihat mengiba,saya menoleh kearah mereka yang ternyata juga terikat tali rotan persis seperti raden..
bahkan anak2 juga diperlakukan demikian, suara anak yang menangis memanggil ibunya, dan suara ibu yang menjerit menahan tangis memanggil anaknya..
didepan mereka terlihat pemimpin mereka bersimpuh dan diperlakukan seperti binatang, pasti mereka sangat ketakutan.
..
..
suasana semakin riuh saat seorang yang mirip algojo itu mengarahkan pisau kekepala raden, suara jeritan histeris para wanita disana terdengar begitu nyaring, beberapa diantara mereka bahkan sampai menangis ketika melihat kedua telinga raden terpotong,
siksaan kejam lainya yang diterima raden membuat saya merasa ngeri, saya tidak bisa melakukan apapum, teriak pun saya sudah tidak bisa lagi, saya hanya bisa menutup mata ketika pisau yang berlumuran darah itu mulai menyentuh leher raden.
"astaghfirullah" hanya itu yang bisa terucap berulangkali dari mulutku, jeritan dan tangisan semakin lama semakin keras, dan memaksa saya membuka mata, dan begitu kedua mata saya terbuka saya melihat 2 orang raden,
satu orang sosok raden yang masih sehat, dan seorang raden lagi yang terbaring bersimbah darah di didepan orang2 yang berkerumun itu..
.
saya :"apa yang sebenarnya....."
raden :"memberontak, saya terlalu banyak membangkang, saya menolak memberikan jumlah upeti yang harus disetorkan, dan inilah akibatnya, saya harus
yang harus saya terima"
raden menunjuk ke kerumunan warga, mereka... mereka.!!! ahh saya terlalu takut menceritakanya, mereka medapat perlakuan seperti binatang, disiksa, bahkan anak2pun mendapat siksaan yang mengerikan.
prajurit2 yang berada di tengah lapangan berjalan menjauh dan sekitar 3 pelton prajurit ain yang membawa busur dan anak panah mulai berjajar di pinggir lapangan.
clashhhh!!! anak panah itu meluncur dari busur dan mengenai perut seorang anak yang mungkin baru berumur 5 tahun!!, diikuti anak panah lain yang berhamburan mengenai anggota tubuh dari masing2 warga..
saya menatap kearah raden
"kenapa??, kenapa kamu menunjukan ini?"
raden tidak menjawab, dia kembali menunjukan jarinya kearah pembunuhan masal itu, setelah semua anak panah diluncurkan, puluhan prajurit lain yang membawa tali memeriksa setiap tubuh yang berlumuran darah itu, bau amis dan anyir dari darah yang tergenang membuat saya mual.
mereka menemukan 19 orang selamat dan mengalungkan tali ke leher mereka, orang2 itu meronta ketakutan, dan melakukan perlawanan yang percuma, mereka disiret dengan seutas tali yang melilit leher mereka,
dan beberapa prajurit melemparkan tali ke sebuah pohon yang sangat besar.. pohon yang familiar, dan benar saja pohon itu adalah pohon yang sama seperti pohon yang berdiri di samping kamar hotel saya menginap..
19 orang, terdiri dari 10 orang wanita, 5 orang manula dan 4 orang anak2, mereka digantung hidup2!!
beberapa prajurit lain mulai menggotong mayat2 lain yang mungkin diantara tumpukan mayat itu masih ada yang selamat, mereka menaruh jerami dan cairan hitam seperti minya, seseorang yang membawa obor mulai menyulutnya dan...
bufff api berkobar dengan besarnya, saya mendengar jeritan minta tolong dari beberapa orang yang ternyata masih hidup, segera saja bau sangit dari rambut yang terbakar dan bau daging dan darah yang terpanggang masuk ke hidungku,,
saya melihat beberapa prajurit menggotong tubuh raden yang sudah hampir tidak bernyawa dilempar ke bara api yang memanas...
ngerii,, menakutkan.. pembantaian manusia pertama yang saya lihat, walaupun ini hanya memori dari masa lalu, tetap saja akan membuat kalian mengompol jika melihatnya.
kenapa mereka melakukanya?? apakah ini wajah kerajaan nusantara di masa lalu??, penuh kekejaman?, hanya karena wilayah, hanya karena pajak, nyawa manusia yang harusnya dilindungi bahkan tidak ada harganya..
"kerajaan galuh, dan kerajaan kami kalah perang, para petinggi kerajaan mengatakan bahwa kekalahan terjadi karena perbekalan yang kurang, hingga kami harus dihukum seperti ini, mereka menganggap bahwa kami tidak memberi upeti yang ditetapkan"
raden mulai berbicara padaku dengan nada bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
"semua sudah digariskan, kamu adalah anak emas, kami menunjukan ini agar kamu bisa mengambil manfaat, kami bukan jin hitam, kami hanya ingin mengajarai rasa sakit dan ketakutan padamu agar tidak ada lagi kejadian seperti ini"
sebuah pembelajaran dari masa lalu"
saya :"lantas apa yang harus saya lakukan untukmu?"
raden tersenyum, tanganya menepuk pundaku sesekali matanya memandang sekeliling kami, dan secara tidak sadar saya sudah berada didalam kamar hotel.
mata saya berkunang2 entah efek dari apa hingga membuat sensasi pusing dikepalaku, hening... suasana yang hening, raden tampak duduk bersila didepaku sambil memejamkan mata, dan secara otomatis otak saya mem flash back kejadian tadi,
mencoba membuat kesimpulan dari asumsi saya sebelumnya, dan tiba2 saya teringat sesuatu yang sangat penting.
saya : "Risa ....... "
tanpa membuang waktu saya beranjak menuju pintu.. klekkk.. kleekkk
saya :"kenapa kamu masih menahanku??" tanyaku kepada raden yang masih bersila, kali ini tubuhnya mengambang dengan jarak 30cm dari lantai..
raden :"gadismu tidak apa2, kami hanya membuatnya tidur sebentar, bukanya kamu tadi punya satu pertanyaan??"
saya hanya mengangguk, saya tidak tau kenapa tapi saya jadi mempercayai raden.
"doakan kami... agar tidak ada lagi dendam, agar kami bisa pergi dari tempat ini, kami sudah menunggu lama orang sepertimu .. lama sekali, kami sudah terlalu lama menunggu hingga rasa dendam dan benci itu semakin menggunung"
saya mengangguk, saya paham apa yang dia rasakan.
raden berdiri, sambil melayang dia mendekatiku..
"jangan jadi manusia seperti yang saya tunjukan, terimakasih.. saya percayakan kepadamu, salah sawijining satrio piningit"
dan dalam sekejab... raden sudah hilang dari pandanganku....
saya memncoba membuka hendel pintu itu sekali lagi dan... klekk... berhasil, saya berlari menghambur menuju kamar risa yang bersebelahan dengan kamarku,blarrrr saya malah menabrak pintu yang terbuat dari kayu tebal itu sampai menimbulkan suar yang keras,
"siapaaa??" sebuah suara menyaut, risa ya itu suara risa, sejenak saya menghela nafas lega karena tidak terjadi apa2 denganya,
"aku nduk!, bukain pintu cepet!!" seruku dari luar, dan begitu pintu itu terbuka tampak wajah risa yang terlihat kebingungan,
"kenapa mas? hoammm.. kayaknya aku jatoh dari kasur deh, tapi kok bisa2nya gak bangun yak?, malah tidur dilantai tadi hehe" detik itu juga saya jadi ikut bingung antara senang karena risa sama sekali tidak apa2, bahkan tidak mengingat kejadian menakutkan itu, atau harus jengkel dan sebel melihat wajah tanpa dosanya setelah apa yang saya alami malam itu.
dan yang mengherankan adalah peristiwa yang saya rasakan seolah memakan waktu seharian itu tidak mengubah waktu, apakah waktu berhenti??
wallahuallam, Tuhan benar2 terlalu baik atau sedang mengutuku dengan hal aneh yang terjadi seperti barusan, seiring berjalanya waktu saya mulai mengerti dengan apa yang terjadi padaku, misteri demi misteri akan terpecahkan seiring pendewasaan saya,
ini seperti mengisi teka teki silang, setiap kolom akan saling berhubungan untuk mendapatkan jawaban yang hakiki, cerita ini akan terus berlanjut sampai peristiwa terakhir yang akan saya alami dihidup saya saat ini, yang jelas peristiwa pada malam itu akan selalu saya ingat.
dan akhirnya malam itu saya tidur sekamar dengan risa dan harus rela istirahat diatas sofa yang ada disebelah tempat tidurnya.
benar2 malam menakutkan yang tidak akan pernah saya lupakan, tapi kalian tau? kejadian menakutkan lainya terjadi pada pagi hari saat kami check out dari hotel angker itu,
kejadianya adalah saya harus membayar ganti rugi kasur yang saya rusak semalam saat bertemu raden dalam wujud seramnya, dan yang paling menakutkan lagi adalah ocehan risa yang tidak henti2nya bertanya kenapa saya bisa sampai merusak kasur itu,
"iki mergo kahanan nduk -_-", ucapku asal dalam bahasa jawa unuk menghindari pertanyaan2 lain yang pasti terlontar dari mulut bawelnya.
setelah check out kami melanjutkan perjalanan ke jakarta, dan semenjak menginap di hotel itu saya akan lebih selekif dalam memilih hotel kalau ingin menginap lagi.


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

100 Tahun Setelah Aku Mati #36 - Bertarung Diluar Gelanggang

saya menjalankan mobil menuju kampus risa yang terletak di jogja utara, hmmm benar2 suasana yang hening,
risa yang saya kenal adalah cewek yang sangat cerewet tapi kali ini dia hanya diam,
ingin rasanya saya memecah kebisuan dan menganggap semua ini sudah berlalu, tapi egoku tidak bisa menampik kejadian itu,
entah apa yang membuat risa memintaku untuk mengantarnya kekampus.saya yakin ada maksud yang ingin disampaikan risa,
dan tak terasa kami sudah sampai di parkiran kampusnya risa, universitas swasta yang cukup besar menurutku,
"mas udah makan?" risa mulai berbicara kepadaku, kami tengah berjalan, saya tidak tau akan dibawa kemana oleh risa.
saya :"udah kok" jawabku yang masih saja terkesan dingin..
risa :"mas udah shalat maghrib??"
saya menggeleng, ini memang sudah masuk waktu sholat maghrib.
saya :"emm masjidnya disebelah mana ya nduk?"
risa :"disana mas, itu masih banyak mahasiswa juga, mas ikuti mereka aja, aku lagi berhalangan shalat. dan mas nanti temui aku di auditorium yak,di deket

perpustakaan gede itu" kata risa sambil menunjuk sebuah bangunan besar.
"dan semua pertanyaan mas akan terjawab disana"
risa tidak menungguku menjawab, dia berjalan perlahan menuju auditorium tanpa menoleh kearahku sekalipun.
saya termangu beberapa saat melihat risa yang berjalan dengan anggun, baju seragam keperawatan miliknya membuat dia terkesan lebih seksi dari biasanya,
"andai kamu risa yang dulu" gumamku dalam hati.
saya baru tersadar saat seorang mahasiswa lewat didepanku, dan saya buru2 berjalan menuju masjid kampus...
selesai shalat saya masih terduduk di pelataran masjid sambil melamun sesekali, sejak sore tadi saya jadi banyak melamun..
saya buru2 memakai sepatu dan berjalan menuju auditorium yang dimaksud risa tadi.
saya berjalan pelan sambil sesekali pandangan saya menyisir lingkungan kampus risa,
banyakmakhluk gaib disini sama sepertibangunan tua pada umumnya, batinku saat melewati sebuah bangunan kecil yang entah bangunan apa itu..
saya sampai disebuah lorong dan berpapasan dengan banyak mahasiswa dan mahasiswi yang masih lalu lalang,
apa disini jam perkuliahanya juga sampai malam? sebuah pertanyaan tidak penting kembali terlintas di kepalaku..
saya mememasuki auditorium itu sambil tolah toleh untuk menemukan sosok risa diantara sekian banyak mahasiswa yangberjibun disitu.
sepertinya mereka sedang menyiapkan stage acara, tampak beberapa sedang memasang soundsystem, dekorasi panggung, menata meja kursi dan lain-lain,
tapi dimana risa?? saya masih celingukan mencari keberadaan risa.
sampai akhirnya saya menemukan sosok yang sangat saya kenal, walaupun bukan dia yang saya cari tapi setidaknya bisa saya tanyai.
saya mendekatinya yang tengah sibuk menghias kursi tamu,sehingga tidak menyadari kehadiran saya dibelakangnya.
saya :"ehemmm susss"
susi :"lohhh rizal kan?kok sampe sini???"
susi terlihat kaget melihat saya dibelakangnya, dia menginstruksikan salah seorang temanya untuk menggantikan kesibukanya.
saya :"yaa, pasti kamu tau alasanya kan? bukanya ini idemu?"
susi :"emmm,ya jadi kamu kesini cari risa??"
saya :"ya terus untuk apa lagi??,dimana dia sus?katanya diauditorium?"
susi :"kayaknya bukan waktu yang tepat deh zal ketemu risa sekarang"
nada suara susi menjadi tidak enak didengar,
saya :"justru ini waktu yang tepat, kamu tau dia dimana sekarang??"
susi :"yaa tadi aku liat dia lagi sama ari di samping ruangan ini, kamu bisa kesana lewat pintu yang dipinggir itu" ujar susi dengan suara yang sengaja dia

pelankan.
saya :"makasih sus,nanti kita ketemu lagi ya" ucapku sambil berlalu.
susi :"zal!!"
pangggilan susi membuatku menoleh kearahnya..
"mau aku temeni?"tanya susi dengan cemas.
saya :"haha gak usah lah sus, biar akucari tau sendiri, seperti obrolan kita kemaren" ujarku sambil terus berjalan
.
saya berusaha mencari risa setelah berhasil melewati pintu samping yang dimaksud susi tadi, dan itu dia,dari kejauhan nampak risa dan pasangan barunya sedang berbicara

di lorong seberang perpustakaan dekat auditorium, sebenarnya saya sedikit marah bercampur penasaran, apa sebenarnya maksud risa?? apa dia mau mengenalkan ari kepadaku

secara langsung?
mau mengatakan kalau dia sekarang sudah memilih orang itu dari pada saya? kalau itu maksud risa saya menyesal mengantarkanya kesini, tapi rasa penasaran saya lebih

besar hingga membuat saya mendekati mereka berdua,
saya semakin dekat dan sayup- sayup terdengar obrolan mereka dengan nada tinggi..
risa tampak memegangi pipinya sambil menunjuk2 ari.dan disitu feeling saya sudah tidak enak, saya yang semula hanya berjalan malas kini mulai berlari, ingin segera tau

sebenarnya apa yang terjadi..
.
"kamu tau kak,aku udah berusaha bersikap baik!" risa berteriak dan menunju-nunjuk wajah ari yang terlihat emosi sama seperti risa
..
"ada apa ini nduk?" seruku setelah saya cukup dekat dengan mereka.
ari yang tau bahwa saya datang langsung melotot dengan wajah geram...
"nduk pipimu kenapa??" tanya saya dengan panik melihat risa seperti kesakitan sambil memegang pipinya..
ari :"ohhh lu cowok culun kemaren ternyata.. punya nyali juga ya, bilangin sama tuh cewek gak tau diuntung jangan seenaknya sama gua!"
dia berteriak sambil berusaha memegang kepala risa.
plaakkk,
reflek pertama saya adalah menampik tangan itu jangan sampai menyentuh risa lagi.
saya tidak peduli dengan siapa ari sebenarnya, kala saja dia menyakiti risa secara fisik maka dia baru saja membangunkan "macan tidur"yang ada dalam diri saya,
"mulai resek lu,dasar brengsek!!" tampak ekspresi kalap dari ari
Brugggg..
dia memukul mata saya yang tertutupi kacamata, membuat kacamata tebal saya pecah berantakan.saya merasakan cairan kental menetes melewati pipi saya.
ternyata sekeping pecahan lensa menggores kulit samping mata saya dan membuat luka gores yang cukup dalam.
"mass!!!"risa berteriak histeris melihat saya berdarah, saya masih diam dan berusaha mengontrol emosi saya, karena jika sampai saya kalap,maka saya akan menjadi sangat

liar..
"kamu brengsek!!keterlaluan!" risa mendorong ari yang hanya tersemyum sinis sambil meremehkanku,
teriakan dan suara ribut dari mereka mengundang perhatian teman2 ari dan banyak mahasiswa lain yang kebetulan didekat situ berdatangan...
"Ada apa ni ri??"seorang dari tiga cowok yang sepertinya adalah rekan ari menghampiri kami dengan berlari.dan disusul 2 orang lagi..
ari :"ini bro, ada orang culun mau bikin onar ditempat kita, habisin aja jangan kasih napas!, seret dia kelapangan samping!"
ari memerintah kepada teman2nya tadi yang langsung terpancing emosi karena provokasi ari..
risa hanya menjerit2 melihat saya dibawa paksa ke pojok kampus untuk di hajar beramai2, seseorang dari mereka menghalang2i risa agar tidak mengganggu aksi mereka,
bagaimana dengan saya??saya hanya pasrah tapi bukan bererti saya takut, saya memang belum melawan, saya ingin mereka puas dulu....
dari kejauhan tampak gerombolan mahasiswa lain yang berkerumun karena melihat kejadian itu, dan lucunya mereka tidak berbuat apa2, mungkin ari adalah preman di kampus ini,
"hehh!! jangan ada yang lapor ke satpam! biar kita abisin nih anak dulu!,bagi yang ikut campur ya nasib kalian bakalan sama kayak orang aneh ini" teriak ari sambil memegangi saya
.
brukkk pukulan pertama mengenai pelipis saya, dan sebuah tendangan dari seorang yang bertubuh tambun membuat saya tersungkur.
"mampus lu banci!!" sebuah teriakan dari ari terucap dan diiringi pukulan dan tendangan dari beberapa temanya,
saya yang sudah terbaring hanya diam sambil mengerang karena sudah tidak terhitung berapa bogem mentah yang saya terima.
saya masih menunggu sampai mereka kelelahan memukuli saya,dan jika kalian tanya apakah saya kesakitan, saya tidak tau atau lebih tepatnya saya tidak ingat, karena jika

saya sudah kalap yang keluaradalah sisi gelap dari saya..
kalian punya sisi gelap? saya yakin semua orang memilikinya..
saya yang berdarah di sekujur wajah mulai bangkit...
saya menatap wajah ari dan beberapa temanya dengan tajam.tangan saya bergetar karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa marah...
"hebat juga ni anjing" seorang yang hampir setinggi saya memukul perut bagian atas saya...
brukkkk... sebelum tinjunya menyentuh saya, saya sudah menghujamkan kepalan tangan saya ke wilayah perutnya,
dia tersungkur jatuh sambil memegangi perut,
brugg...
dan beberapa pukulan lain dari saya membalas masih2 dari mereka..
tidak ada yang berani membalas lagi,pukulan yang saya berikan kepada mereka tampaknya memberi rasa sakit luar biasa buat mereka,
tekecuali ari... saya menyimpanya untuk bagian akhir,
brugg,
"ini buat pukulan pertamamu tadi" saya membenamkan tinju saya ke perut bagian sampingnya,
membuatdia terjongkok menahan sakit.
brugggg.. brugggg
"itu buat tamparanmu ke risa" masing2 dari lutut saya menghujam wajahnya yang membuat dia jatuh terlentang..
brug...bruggg.. bruggg. bruggg....
entah berapa pukulan yang saya layangkan kemulutnya, darah sudah memenuhi kepalan tangan saya, terlihat giginya banyak yang rontok karena tidak kuat menahan benturan pukulanku.
saya yang sudah mustahil berfikir jernih saat itu menghiraukan erangan minta ampun dari ari yang sudah setengah pingsan..
saya masih berjongkok diatasnya sambil meninju mulutnya berkali2.
"dan itu buat kata2 kotormu yang kamu ucapkan ke risa"
saya berdiri dan berjalan menjauh sambil melihat 4 orang teman ari yang hampir tidak bisa berdiri lagi,
apakah saya sudah cukup puas?? tentu saja belum, entah setan macam apa yang merasuki saya. bukanya merasa cukup saya sambil tertawa malah mengambil sebuah batu sebesar
bola sepak dan mengangkatnya tinggi2 didepan ari yang sudah tidak berdaya...
.
"mas!!!" sebuah teriakan melengking membuat saya yang sudah siap menjatuhkan batu kekepala ari menjadi teralih dan sedikit menurunkan tangan tappi dengan posisi batu

besar itu tetap persis diatas kepala ari yang terkapar dan mulai kejang,,

tampak puluhan orang berlari kearahku dengan tatapan takut melihat 5orang terlentang disebuah lapangan basket,seseorang berseragam putih dan bercelana biru memegangiku

dan seorang rekanya berusaha mengambil batu yang saya bawa.
"istigfar mas, cukup!" adalah suara yang dapat saya ingat, sedangkan suara2 lain yang sangat ribut benar2 saya hiraukan.
3orang security berhasil merebut batu yang saya pegang, dan 2 orang lagi memegangi tubuhku dan seperti menyeret saya untuk menjauh dari kerumunan.
pikiran saya belum fokus, rasa amarah masih memenuhidan seakan membakar sekucur tubuh saya,
beberapa mahasiswa memeriksa si ari yang hanya bisa mengeluh kesakitan, saya yang masih kesetanan sontak melepaskan diri dari pegangan 2 satpam berbadan gempal itu

begitu tau ari masih bisa bergerak, baru kali ini sayamengeluarkan emosi se frontal ini, seakan emosi yang tertimbun lepas dan tidak bisa terkendali lagi.
dan pengalaman pertama saya dimana saat itu saya benar2 ingin membunuh seseorang..
2 orang satpam tidak akan cukup kuat menahanku, selain posturku yang sangat bongsor(tinggi 190cm dan berat badan 85kg)saya yang sedang "on fire" memang tidak akan

mudah ditahan oleh siapapun.
3 orang security lain memegangiku dengan kasar hingga membuat saya tidak segan menyerang balik mereka.
brutal, liar, saya bukan menjadi diri saya lagi saat itu,hingga saya berhasil membuat 5orang satpam kelimpungan, dan puluhan orang2 yang berkerumun itu sama sekali

tidak berani mendekatiku, saya semakin mendekat dengan ari, dia meulai menyeret tubuhnya berusaha lari dari amukan saya,
"ampun" percuma teriakan minta ampunya tidak akan mengetuk nuraniku yangpenuh dengan emosi ini.
brugggggg,,
apa yang terjadi? saya terjatuh dan seseorang mengunci tubuhku dari belakang sambil mencekik leherku, tenaganya tidak kuat,tp efek kuncianya membuat saya tidak bisa

bergerak, ditambah beberapa orang berjaket kulit dan bersepatu pdh memborgolku...
total 7 orang berhasil melumpuhkanku dan menyeretku kesebuah kendaraan, saya tidak bisa melihat apapun, karena wajah saya ditutupdeengan semacam karung berwarna hitam.
saya dimasukan paksa ke sebuah mobil dengan kondisi tubuh terborgol..
entah berapa lama, cukup lamamungkin hingga kesadaran saya kembali muncul dan mulai merasakan ngilu di bagian perut..
perihhh...bagian perut saya terasa tersayat, saya baru menyadari kalau ternyata tadi saya tertusuk sesuatu
entah siapa yang melakukan ini, darah membasahi kemeja saya..
dan semuanya terasa dingin..
gelap....
.
.
.
.
saya meraih tangan dari seseorang, entah tangan siapa itu, yang jelas dia membantu saya untuk berdiri, saya mengucek mata dan berusaha mengumpulkan kesadaran untuk

memastikan saya sedang berada dimana, saya terduduk disebuah dipan yang terbuat dari bambu, rumah dengan tembok dari bambu,
seorang lelaki muda berada didepanku,
ha??? wajahnya... wajahnya...
dia seperti!!... bukan seperti, itu memang.
wajah didepanku adalah aku???!!!
seketika itu juga saya sadar, bahwa ini bukan di alam nyata....


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

100 Tahun Setelah Aku Mati #37 - Touring With

wajah didepanku benar2membuat saya tertegun, kira2 hal gila apalagi yang akan terjadi?, saya memandang sosok perwujudan pria muda didepanku itu, diasangat identik denganku, wajahnya, rambut, warna kulit postur dan hampir semuanya serupa, satu2nya yang membedakan kami adalah pakaian, dia memakai pakaian tempo dulu, bawahan dia memakai kain jarik yang diwiru, dengan atasan pakaian lengan panjang berwarna hitam,dengan beberapa aksesoris, yang paling mencolok adalah sebuah kalung berwarna emas dengan bandul berbentuk matahari.
.
saya :"siapa kamu??dan apa maumu?" seruku dengan nada suara tinggi.
dia tidak menjawab, makhluk itu berjalan kesebuah pintu dan membukanya, dan membuat saya memicingkan mata untuk menghalau sinar matahari yang menyilaukan mataku.
"aku adalah sisa2 sejarah masalalu dari orang sebelum kamu,dan kamu adalah orang yang mewarisi kanuragan linuwih" dia berbicara membelakangiku.
saya terdiam sambil berpikir maksud dan kearah mana dia akan membuat topik pembicaraan.
"kamu bisa menjadi sekeras besi, sekaligus selembut buah kapuk, kamu bisa menjadi klewang tajam untuk melindungi,atau menjadi klewang tajam untuk melukai, kamu adalah seekor kuda dengan tenaga kuat yang penurut, tapi kamu juga seekor harimau yang mengamuk, kamu bisa menjadi sakelek-eleke manungsa, lan sak becik-becike manungsa"

saya hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti arah pembicaraaanya,
"amukanmu tadi sangat tidak bijak le"
.
saya :"baiklah, saya mengerti tapi siapa anda?dan toblong segera kembalikan sukma saya ke raga dimana saya seharusnya berada"
dia lagi-lagi tidak menjawab, dia berbalik dan menghampiriku,
"bisa dibilang aku adalah kamu di masa lalu, paling tidak sebagian darimu,dan aku ada didalam dirimu, berhati-hatilah"
.
.
.
saya tidak ingat itu hari apa, yang jelas itu adalah hari libur, saat saya terbangun di sebuah kamar yang bukan kamarku.
semalam adalah malam yang panjang dan melelahkan, malam itu saya nyaris menghilangkan nyawa seseorang, ternyata didalam diriku ada sebuah sisi lain yang sangat bertolak belakang dengan keseharianku.
saya meraba perutku yang diperban,beruntung luka ini tidak menyayat perutku terlalu dalam,
saya kembali mengingat kejadian pasca saya berkelahi dengan orang-orang itu, saya mendapatkan pertolongan pertama yang dilanjutkan beberapa introgasi dari aparat berwajib,
ya malam itu saya diringkus kepolisisan karena membuat keributan di lingkungan kampus, dan kalian tau kabar buruknya?? orang yang membekuk saya adalah om hamzah, ayahnya risa yang menjabat kepala reserse kriminal,itu benar2 membuat saya tidak enak hati dengan beliau,
lalu apa kabar baiknya??,kabar baiknya berasal dari ari dan kawan-kawanya, mereka tidak terluka serius, hanya ari yang harus relamengenakan gigi palsu selamanya karena hampir semua gigi depanya rontok terkena tinjuku, dan saya patut bersyukur masalah semalam cepat beres karenatampaknya mereka terlalu takut berurusan denganku dan terutama om hamzah yang berasal dari kepolisisan, akhirnya kasus itu ditutup malam itu juga, fiuuhhh beruntung. karena jika sampai saya tersandung kasus hukum saya harus mengucapkan selamat tinggal melbourne karena beasiswa saya dicabut
.
saya kembali mengingat pengalaman interdimensional saya malam itu,saya masih heran dengan hal gila diluar nalar yang sering saya alami, apa yang salah?? ilmu medis yang saya pelajari dan ilmu ilmiah lain belum bisa memuaskan rasa penasaran saya, tidak ada jawabanpasti tentang masalah salah saya ini. apakah otak dan kejiwaaanku memang sakit?, atau ilmu yang dipelajari manusia belum mampu menguak hal2 tak kasat mata itu??
.
.
"mas, udah bangun??, kebawah yuk sarapan dulu"
suara risa terdengar lembut ditelingaku, dia duduk dikasur sambil membelai rambutku pelan, dia masih marah dengan kelakuanku semalam, tapi rasa khawatirnya kepadaku mengalahkan emosinya, saya juga merasa bersalah kepada risa,gara2 kesalahpahaman ini..
saya turun dari kasur dan berjalan perlahan sambil digandeng oleh tangan lembut risa, malam itu saya menginap dirumahnya, karena semua masalah semalam baru beres pukul 4 pagi dan saya harus istirahat..
raut wajah risa masih saja terlihat sebal denganku, walaupun sudah mereda dan sikapnya sudah mulai lembut lagi kepadaku, sedangkan om hamzah orangnya santai banget, sambil makan kami ngobrol2
om hamzah :"kamu latian beladiri dimana le?? hebat lho, saya sama anggota aja kewalahan sampe terpaksa mukulin kamu biar nurut" om hamzah membuka obrolan dengan santai.
saya : "ohh, hehe saya dulu anggota merpati ptih om, terus ikut judo sama akaido juga" jawab saya
om hamzah :"wolaahhh, pantes, bagus deh bisa buat jaga diri kayak semalem, asal gak kebablasan aja" jawab om hamzah sambil tertawa
risa :"ayaah! apa2n sih? bukanya dinasihatin biar gak berantem lagi malah di puji,dan mas awasss ya kamu kalo sampe berantem kayak semalem lagi!"
risa ikut menimpali sambil mengacungkan kepalantanganya kepadaku
saya :"iya2 nduk, itu juga kepepet buat belain kamu, kok malah diomelin sihh"
om hamzah yang mendengar omongan saya dengan risa malah tertawa terbahak2
"hahahaha, rizal2 kamu itu aneh, kalo pas kalap wiss kayak werkudara ngamuk, tapi kok sama cewek jadi nurut bukan main"
saya dan risa cuma bisa tersenyum kikuk karena komentar om hamzah.
.
"yaudahhh, ayah berangkat dulu, hari ini ada kepentingan, biar kalian juga gak keganggu, dan risa jangan ngomelin rizal terus. kasian dia kamu marahin gitu2 juga kan buat belain ujar beliau sambil pergi berlalu.
.
.
.
risa mengajaku keruang tengah sambil menyalakan tv, dia duduk dan masih cuek denganku, tampaknya moodnyamasih buruk, cewek yang sedang pms emang susah ya.
saya :"ndukkjalan yuk" ajaku mulai merayunya.
risa :"gak mauuukk!" jawab risa sambil memonyongkan bibirnya
saya :"yaelahh nduk, udahjauh2 dateng dari Ausi lho aku diajak jalan masak gak mausih" saya benar2 merajuk kali ini, keliatanya baru pertama kali saya merajuk kepada risa.
risa :"mau jalan kemana? muka bonyok, perut di perban, mau jalan ke ugd ya hayuuu" jawab risa dengan nada ketus
saya :"dihh kejem -_- "
.
saya mengalihkan pandangan ke layar tv, karena risa sedang tidak bisa diajak kompromi, kalau tidak salah program reality show yang kala itu populer sedang ditayangkan.

Risa mendekatkan tubuhnya kepadaku, dan memegang tanganku, sambil menyenderkan dagunya kepundaku
"kangen ma, aku kangen" katanya sambil berbisik lembut ditelingaku..
saya :"akupun begitu nduk" jawabku sambil tersenyum melihat perubahan sikap risa yang mendadak menjadi manja.
saya :"maaf ya, aku udah salah paham sama kamu"
risa :"gapapa mas, lupakan aja, bukansalahmu kok" jawab risa sambil memijit2 tanganku.
risa :"kamu disana tambah gedean aja mas" risa mengomentari tubuhkuyang memang bertambah berisi karena rajinolah raga disana
saya :"hehe,keren kan??, perbaikan gizi disana nduk"
risa hanya tersenyum sambil mempererat pelukanya.
risa :"mas libur berapa hari liburanya??"
saya :"sebulan sihh, tapi ya sekitar 3 minggu aja disini"
risa :"fiuhh, untung lumayan panjang ya mas, jadi kita bisa jalan duluu"
saya :"katanya gak mau jalan tadi??"
risa :"kalo sekarang gak mau mas, masak aku jalan sama orang yang mukaknya biru2 gitu, disangka aku jalan sama maling yang abis di masa "
saya :"ledekin aja truusss ledekin -_- "
obrolan kami berlanjut dengan seru, rasa kikuk yang sempat hadir kini sudah hilang, saya dan risa seperti mengabaikan kejadian semalam, syukurlah semua hanya salah paham dan tidak merusak hubunganku dengan risa, 1,5 tahun berpisah, dan kini wajah cantik yang selalu ada disetiap anganku benar2berada didepanku,
senyumanya dan tawanya benar2 membuat rasa kangen yang saya simpan menjadi terobati, ternyata sikapnya hampir sama fisiknya memang bertambah ayu, tapi sifat lembut sekalligus sadisnya mungkit tidak bisa hilang, dengan bagian perut yang terluka risa masih saja tega mencubit saya dengan gemas,
"kangen nyubitin kamu mas " ocehnya dengan muka tengil yang khas...
saya memainkan rambutnyasambil mendekatkan tubuhku kepadanya, bau harus dari rambutnya mengingatkanku dimana dulu kami sering menghabiskan waktu bersama..
risa :"mas, aku mau tanya"
saya :"iya apa nduk?"
risa :"kamu pulang kesini sendirian apa sama temen mas?, kok kemarin aku liat ada sandal cewek didepan rumahmu?"
saya cuma menepuk jidat sambil berkata
"aduhhh.. lali tenan aku"
yaaa.. Dewi dari kemarin saya tinggalkan dirumah sendirian...

saya :"iya nduk, ampe kelupakan aku, anter kerumah yokk, kasian dia sendirian dia tamuku. dewi yang sering tak critainke kamu itu lho, dia mau liburan ke jogja seminggu"
risa :"wuuuu ngawur kamu mas, kasian dia.. susul yokk, jadi dia semaleman dirumahmu sendirian??"
saya :"namanya juga lupa, hpku daarisemalem juga mati, yok ahh"
saya dan risa berangkat menggunakan mobilku, tapi yang berbeda kali ini yang nyetir adalah risa, ya dia sudah cukup mahir menyetir setelah dilatih nyetir oleh ayahnya..
dan risa adalah pengemudi yang tidak patut dicontoh, dia bawaanya ngebut terus, salib kiri salib kanan, sampe ada bis besar berjejer tiga juga dia salib dari kanan,
beuhh saya cuma bisa membaca istigfar karena pacar saya ini benar2 mengacam =hidup saya.
dan akhirnya setelah 15 menit yang benar2 menakutkan kami sudah sampai di rumah saya, dengan pagar yang terkunci,
saya memencet bel berkali kali untuk memanggildewi yang mungkin sedang melakukan kegiatan lain di dalam rumah,
dan samasekali tidak ada jawaban,kemana dewi apakah dia tertidur, setelah saya dan risa beberapa lama menunggu akhir seseorang muncul, tapi bukan dewi, melainkan pak sodiq yang datang dari rumahnya dan menghampiri kami,
pak sodiq :"walaahh pak dokter ini gak tauditunggu temenya dari semalem malah gak pulang, ini mas saya dititipi kunci, sama surat ini. tadi temenya mas harus pergi, ada kepentingan, katanya gitu mas" kata pak sodiq sambil memberikan kunci rumah dan sebuah amplop berisi surat dari dewi.
saya :"makasih pak, maaf lho merepotkan, semalem ada insiden ini ampe bonyok gini"
paksodiq :"lhahhh, kenapa itu mas??"
saya :"biasalah pak anakmuda hehe" jawab saya asal
pa sodiq :"wahhh jann mas, baru pulang kok langsung babak belur gitu"
saya dan pak sodiq ngobrol selamabeberapa menit sampai tetanggaku ini pamit masuk rumahnya.
saya membuka amplop dari dewi,
"didalem aja yuk mas, dah pegel aku bediri terus..
saya :"ehhh, iya ding hayu deh"
saya sudah berada di ruang tamu dengan risa kami saling berpandangan sampai risa menganggukan kepala dan saya mulai membuka surat itu.
.

"untuk Rizal.
maaf ya zal, aku pulang gakpamit, kamu sih nomornya gak bisa dihubungi. maafbanget ya sebelumnya aku harus buru2 balik jakarta,pengasuh pantiku kerepotan disana dan lagi banya anak sakit, jadi ya mau gak mau aku harus pulang, dan iya oleh2ku yang aku beli di malioboro kemaren kelupaan masih dimobilmu kan??, besok kalau balik ausidibawaain yak hehe, besok pas liburan selanjutnya mau aku bawa pulang lagi buat anak2.
sekalilagi maaf rizal, dan terimakasih sudah membolehkan aku mampir.
regard
Dewi"
.
saya dan risa kembali berpandangan,
risa :"kamu sihh mas, gak enak sendiri kan jadinya"
saya :"iya nihh nduk,gimana ya enaknya? ini dia kemaren juga beli baju banyak banget. kasian kalo anak panti juga butuh kan"
risa :"aku libur panjang kok mas"
saya :"maksudmu??"
risa :"well, mungkin kita harus ngunjungin temenmu itu, sambil bawain barang2nya yang masih di mobilmu"
saya :"waaahh cocok, ayok dehhhhh" jawabku dengan bersemangat, kapan lagi akan pergi jauh dengan risa
risa :" ayokk ayokk dengkulmu mas, kayak jakarta itu deket aja, yaa aku kan harus ijin sama ayah dulu, harus siap2juga, emang kamu mas kesana cuma bawa badan doang :P" jawab risa dengan nada ketus, muka rese, dan tingkah tengilnya :3
saya :"iya2 ndoro -_-
.
singkat cerita risa dan saya hanya menghabiskan waktu berdua dirumahku, kita ngapain aja ya dirumah? lebih baik gak saya ceritakan disini ya :P .
dan keesokan harinya risa mendapatkan ijin dari ayahnya untuk pergi kejakarta denganku, "asal hati2dijalan, jangan ngebut.. saya sudah percaya sama kamu le" begitu kata om hamzah saat saya menjemput risa dirumahnya pagi itu, dan setelah semuaperlengkapan lengkap sayadan risaakhirnya berangkat..
"berdoa dulu mas" kata risa kepadaku sebelum mesin mobil kunyalakan..
"always, disetiap apa yang akan aku lakukan"jawab saya sambil tersenyum kepada risa dan disambut dengan senyuman manisnya..
sebuah mp3 player di mobil itu mulai bersuara keras dengan mengumandangkan lagu2 barat lama kesukaanku, risa yang berada disampingku terlihat senyam senyum sendiri..
saya :"kenapa nduk?
risa : gapapa sihh.. seneng "
saya :"mee too "
saya mengamati risa yang sekarang sedikit berubah, dia sudah tidak terlalu bawel, walaupun menurutku tetap cerewet, tapi paling tidak kadar kecomelanya sedikit

berkurang daripada masa2 sma dulu.. dia sudah tidak lagi menjadi tukang komentar,seingatku dulu dia sering mengomentari hal2 remeh yang tidak penting, seperti ibuk2

naik motor boncengan tiga, orang pacaran sambil naik motor, dan hal2 yang paling gak penting lainya, alhamdulillah sih.. iar gak nimbun dosa terus gara2 kerjaanya

nggosip, dia menjadi pribadi yang lebih tenang, tuntutan menjadi seorang mahasiswi menjadikan dia menjadi personal yang lebih dewasa, dan saya sangat menyukainya..
risa :"mas,, kita keburu2 banget gak??" risa mulai membuka obrolan
saya :"egak juga sih, kita kan kesana juga gak bilang sama dewi kan? jadi ya kita jalan santai aja, apalagi ayahmu tadi uda ngewanti2 buat gak ngebut, kenapa

emang?" saya bertanya balik, sambil mengerem mobil disebuah lampu merah di daerah jalan wates.
risa :"ayah gak ngelarang kita buat mampir maen bentaran di perjalanan kan? "
saya :"haha, its oke, mau mampir kemana??"
risa :"aku dari dulu pengen ke ketep mas, hihi boleh gak??
saya :"-_-ndukk kita udah sampe bantul masak harus muter lagi? kejauhan lagi pula gak searah kan? bukan mampir itu tapi merloke -_-" jawabku sambil memegang jidat

mendengar permintaan risa yang nyleneh
risa :"katanya its oke T.T , mas gimana ihhh,huuu gak konsisten, calon dokter kok fak konsisten, gak profesional, gak yes" risa mulai kembalike rutinitas ngoceh gak

jelasnya, padahal baru saja saya membatin sikapnya yang lebih kalem..
saya :"nduk sehat??, tak tinggal setaun setengah tambah ngaco aja kamu, segala profesi di dawabawa -_-"
risa :"biarin, pokoknya aku nga-mmmm-bek kalo gak ke ketep dulu,ya ya ya mas yaaa bentaran doang ahhhh, trus langsung otw kitanya ya"
saya menghentikan mobil disebuah tempat kosong pinggir jalan, sambil menaruh jidat saya di stir,
"ayo dehhh, dari pada aku kejang2 denger ocehanmu" saya memutar balik mmobil dan menuju ke jalan godean, dan langsung berangkat menuju ketep di daerah magelang,padahal

kita mau kearah barat ini harus keutara dulu -_-
saya pikir setelah permintaan tuan putritadi terpenuhi dia tidak akan secerewet tadi,ternyata saya salah.. dia malah ngoceh 2x lipaat melebihi tadi,
saya tidak henti2nya mengurut jidat karena pusing mendengar celotehanya..
risa :"ntar disana kita makan jagung bakar ya mas,trus ngeteh,sambil liat pemandangan, trus foto2 jangan lupa penting banget ituuu,, ehhengggg " perkataan risa

tiba2 terhenti.
saya :"kenapa nduk?"
risa :"engggg.. gak usah foto2dehh ya"
saya :"lho kenapa??"
risa :"mukamu masih bonyok2 gitu mas, gak bagus difoto ntar beli masker ya mas buat nutup mukamu "
saya :"what.. jahat banget nduk koe -_- :'(
risa :
.
.
.
begitulah anak ini, bisa menjadi pribadi yang berubah2, dia bisa menjadi sangat pintar, tapi juga bisa sangat o'on, bisa menjadi tegas sekaligus cengeng, dia bisa

menjadi tenang dan dewasa tapi juga bisa menjadi cerewet dan manja, beberapa hal yang membuat dia menjadi cewek paket komplit adalah kesederhanaanya, kesetiaanya, dan

pengertianya, dia juga tipe cewek yang tidak suka meributkan hal2 sepele, dia bukan penganut paham wanita selalu benar, dia penurut dan selalu mau dikoreksi,
thats my girl, and im a lucky man.
jam menunjukan pukul 9 pagi setelah kami sampai diketep, kalau tidak salah kami berangkat dari rumah risa adalah pukul 6 pagi.. dan sampai di lokasi saya menghirup

nafas dalam2 sambil melihat pemandangan, secara tidak sadar saya melafalkan "subhanallah" sebuah view yang sangat bagus, cantik, indah sebuahciptaan Tuhan yang benar2

agung.
"nyesel mas kesini??" risa mencolek2 bagian perutku yang masih sakit sambil cengar cengir.
saya :"sama sekali enggak nduk "
risa :"maaf ya mas aku tadi cerewet maksa kamu juga, cuma aku merasa udah lama banget mas kita gak punya quality time bareng, 3 minggu itu juga gak lama mas,

ditambah masing2 dari kita punya kesibukan, aku gak mau jadi penghalang aktivitas dan kesibukanmu mas, aku sekuat mungkin akan sselalu mendukungmu,tapi bukan kah kita sesekali dallam jangka waktu yang lama harus menikmati momen seperti ini? "
saya :"terimakasih nduk dan aku juga gak mau menyia-nyiakan momen seperti ini "
.
risa menggenggam tanganku kuat, kami saling berpandangan dan sama sekali tidak berbicara,tapi entahlah ada sebuah pesan yang tersampaikan dari kebisuan kami, seolah

tanpa kata kami berkata "aku sayang kamu" ...
.
.
jam sudah menunjukan pukul 10.30 saya dan risa setelah melanjutkan perjalanan, saya berusaha konsentrasi nyetir sambil sesekali melirik kearah risa, dia tidak bisa

menyembunyikanperasaan senangnya, dia terus2an tersenyum dan tertawa sambil melihat hasil gambar dari kamera pocket yang dibawanya.
"mas, liat nihhh bagusss kannn?! " risa berusaha menunjukan sebuah hasil gambar kepadaku, dia meletakan layar kamera itu 10cm dari wajahku yang sedang khusyuk

menyetir..
saya :"ndukkkkk :V, jangan memperpendek umur kita, aku lagi nyetir, kanan kiri jalan ini jurang T.T "
risa :"hehe maap sayang "
saya kembali berfokus padajalanan, setelah berapa lama berkendara dan entah sampai daerah mana saya menghentikan mobil disebuah masjid untuk shalat dzuhur..
saya :"aku shalat dulu nduk, kamu masih berhalangan??"
risa :"iya mas, tapi paling besok udah selesai"
saya :"okk tinggal bentaran yakk"
risa :"iyakkk "
.
.
rinai hujan membasahi jalanan yang kami lewati, entah sudah berapa jam lamanya saya menyetir, saya sudah memberhentikan mobil beberapa kali untuk ibadah, dan makan ,

sampai tak terasa jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan kami sudah sampai di daerah jawabarat, saya memang tidak mengendarai mobil dengan kencang jadi waktu yang

dibutuhkanuntuksampai ke alamat dewi akan lebih lama,tubuh saya sedang tidak fit betul dan beberapa luka juga mebuat saya tidak nyaman..
"mas,cari rest area dulu yuk, capek banget kan??" risa berkata lembut sambil memijit pundaku.
saya :"iya nduk, aku juga dari ausi kemarin emang tidurnya kurang banget"
risa :"makan malem dulu trus kita istirahat, pagi nanti kita baru berangkat lagi "
saya :"lohhh entar waktu kita molor banyak nduk, emang kamu ijin berapa hari sama ayahmu?"
risa :"2 minggu "
saya :"lama bener, yakin selama itu diijinin?? kita disana juga gak 2 minggu nduk, kelamaan"
risa :"hehe buat jaga2 mas, ayah itu udah yakin mas bisa ngejaga aku, sama seperti aku yakin sama mas akan menjaga aku lair dan batin, iya kan mas?"
saya :" i'll promise nduk "


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more

Tuesday

100 Tahun Setelah Aku Mati #33 - Semarang

"ke semarang??. ini udah hampir jam 12 malem zal"
dewi mencoba menanyakan lagi keinginanku,
saya :"iya sekarang kita ke semarang"
dewi :"emm, kamu cuma cari alasan biar gak ketemu risa dulu kan??"
saya :"yaa itu salah satunya, tapi ada beberapa hal lain yang ingin aku lakuin disana"
dewi :"apa itu??"
saya :"kamu akan tau besok pagi, yang penting kita berangkat sekarang ya"
singkatnya dewi berhasil kubujuk, jawabanya tepat saya memang ingin menghindar dulu dari risa, tapi alasanku yang lain adalah saya sudah setahun lebih tidak nyekar ke makan almarhum ibuk dan bapak.
sebelum berangkat kami mampir makan dulu di sebuah warung bakmi kaki lima yang ada di pinggir jalan, sudah lama juga saya tidak makan bakmi godhog,
beberapa hal ringan saya obrolkan dengan dewi, pembeli sepert kami cukup ramai di warung itu membuat yang saya dan dewi harus menunggu cukup lama sampai pesanan kami siap,
saya dan dewi sudah kehilangan topik pembicaraan untuk kami obrolkan, saya cuma menunduk sambil memandangi gelang yang diberikan risa, tertulis namaku dan namanya,
"pakai ini terus ya mas, biar kamu inget terus sama aku" saya teringat kata2 risa saat memakaikan gelang kulit ini..
"ris, aku selalu inget kamu, apa kamu masih memakai kalung itu ris??" saya bertanya dalam hati..
"kamu galau lagi zal?" dewi bertanya..
saya :"cuma memikirkan yang udah lewat"
dewi :"kangen sama yang dulu2??"
saya mengangguk pelan,
dewi :"kalo kamu menyerah kayak sekarang ya siap2 aja nanggung kangen itu sampe kamu tua, tapi kalo kamu berjuang yaa kamu bisa mengulang hal2 yang buat kamu kangen itu sama risa lagi"
saya :"apa kamu pernah dikecewakan seperti ini wi?" saya bertanya balik kepada dewi
dewi :"yaa,, aku sering dikecewakan juga zal, dikecewakan kenyataan, aku cewek yang punya perasaan, meskipun belum pernah pacaran pasti aku juga pernah menjalin hubungan dekat sama cowok"
saya :"boleh diceritain??"
dewi kemudian menceritakan kisah romansanya kepadaku, dia juga pernah jatuh cinta kepada seseorang yang lebih tua 4 tahun umurnya dari dia.
namanya adalah Husain, dewi pertama bertemu denganya saat dewi sma, pertemuanya terjadi saat husein sedang ppl di sekolahan dewi,
dan semua terjadi begitu saja, husin dan dewi menjalin hubungan tanpa setatus, cukup lama. mereka hanya mengungkapkan perasaan mereka masing2,
1 tahun dewi mulai menikmati indanya kasih seseorang,tap.... husin pun harus diambil darinya, ya.. husin meninggal dengan umur yang masih muda, dewi tidak menjelaskan bagaimana sampai husin meninggal,
menceritakan itu pasti cuma akan membuat luka hatinya kembali sakit..
saya :"maaf wi, aku ikut berduka"
dewi :"yaa,, hidup orang seperti kita emang gak mudah ya zal, akupun merasa begitu, saat ada orang baru yang menerima kekuranganku dia harus pergi, kak Husin satu2nya orang yang bisa mengerti aku,
dia begitu melindungiku, tapi semua yang hidup memang bakal mati zal, aku udah ikhlas untuk kepergian kak husin, dan udah saatnya aku berjalan lagi, satu2nya yang membuat aku menyesal adalah aku dan kak husin gak sempat memiliki hubungan seperti hubunganmu dengan risa,
berkali2 kak husin nembak, tapi selalu aku bilang belum siap, dan setelah dia pergi cuma ada penyesalan zal"
saya termenung,, betull juga perkataanya, beberapa kali saya mati2an menjaga risa, mulai dari saat dia koma, saat akan terjadi gempa, dalam hati saya masih sangat besar rasa sayang kepada risa,
tapi entah kenapa egoku menepis semua itu,
saya hanya bisa mengangguk2 seperti orang bodoh, saya paham maksud dewi, tap saya masih ndableg dan masa bodo..
..
kami sudah selesai makan dan langsung masuk mobil kemudian berangkat menuju semarang,
hoamm,, saya sebenarnya sangat mengantuk, saya baru sampai pagi tadi dan kini sudah harus pergi lumayan jauh, tampak dewi sudah tertidur lelap di jok mobil,
dia tetap terlihat cantik saat tertidur, menurutku kecantikan antara dewi dan risa itu berbeda, risa memiliki kecanikan yang terkesan polos dan lugu, dan itu benar2 membuat saya tergila-gila dengan risa,
sedangkan dewi, kecantikanya terkesan anggun dan eksklusif, bahkan dia tidak memakai make up sama sekali kecantikanya akan membuat laki2 yang tidak punya mental cukup kuat menjadi minder..
saya menyelimuti dewi yang nampak kedinginan dengan jaket yang saya bawa...
dan akhirnya kami sudah sampai semarang, tapi tentu saja saya belum sampai di alamat lamaku, saya harus berkendara paling tidak satu jam untuk sampai, sedangkan jam sudah menunjukan hampir pukul 3 pagi..
saya menepikan mobil di rest area sebuah pom bensin, saya membuaka jendela depan dan akhirnya terlelap bersama dewi...
..
suara adzan subuh memaksaku bangun dari tidurku yang hanya sebentar, tampak dewi juga terbangun sambil mengucek2 matanya..
"zal, kita dimana?"
saya :"di semarang wi, aku gak kuat melek trus istirahat disini deh, subuhan dulu yuk"
saya dan dewi melaksanakan shalat subuh di mushala kecil yang ada di spbu itu.
dewi :"kamu gak capek zal?"
saya :"lumayan wi"
dewi :"kita mau kemana sih sebenernya?"
saya :"kamu mau kuajak jenguk orangtuaku"

dewi hanya mengangguk untuk menyetujui ajakanku.
kami sedang sarapan pagi disebuah warung nasi tak jauh dari spbu tadi, sesusai sarapam saya dan dewi segera melanjutkan perjalanan ke makam bapak dan ibuku,
kami sudah sampai di depan gerbang makam, saya menggenggam erat plastik berisi bunga yang akan saya taburkan diatas makam bapak dan ibuk,
"ayo wii" ajaku kepada dewi, kami melangkah masuk dan tak butuh waktu lama saya sudah sampai di kedua makam orangtuaku,
masih terawat dan bersih, Risa benar2 merawat kedua nisan ini, yaaa risa beberapa kali mengatakan kalau berkunjung ke makam ini untuk merawatnya,
dan risa melakukanya dengan sangat baik... "ahhh andai aku kesini sama kamu nduk" gumamku dalam hati.
saya masih berdiri dan melamun di depan 2 batu nisan itu, dewi menyaut bunga yang kugenggam, dia mendahuluiku mendekati makam itu dan berjongkok didekatnya,
"kamu mau melamun terus disitu atau kesini dan ikut berdoa sama aku?" dewi membuat saya tersadar dari lamunanku.
saya mendekatinya dan ikut menaburkan bunga di kedua makam orangtuaku dan berdoa bersama dewi.
"Assalamualaikum pak, buk... ini rizal pulang, bapak sama ibuk dapet nomor antrian berapa di surga??, pak buk terus jaga rizal ya.
sekarang rizal paham, bapak sama ibuk pergi bukan karena gak sayang sama anakmu ini, tapi rizal sekarang udah gede dan paham kalau bapak sama ibuk punya cara sendiri untuk terus menyayangi rizal"
memori nostalgia saat kedua orangtuaku masih bersama kembali muncul di pikiranku..
"sekarang anakmu ini udah jadi calon dokter, gak perlu cerita ya, bapak sama ibuk pasti udah tau. pasti bapak sama ibuk selalu mengawasiku dialam sana kan??,
trimakasih bapak, terimakasih ibuk, rizal harus segera pamit, oh iya ini salah satu temenku di kampus, namanya dewi.."
saya menoleh kearah dewi yang ada disampingku, dia menggenggam pundaku sambil tersenyum tipis..
"semoga bapak sama ibuk mendapat tempat terbaik disisi Allah, Assalamualaikum"
saya mencukupkan nyekar di makam kedua orangtuaku, saya merasa tidak bisa menahan kesedhan tiap kali kesana, tapi yaa inilah yang bisa saya lakukan untuk menghormati kedua orangtuaku yang sudah tiada.
"kamu bikin aku iri zal" dewi membuka pembicaaraan saat kami di dalam mobil
saya :"maksudnya gimana wi?"
dewi :"yaa kamu pasti udah paham"
saya hanya mengangguk, saya memang jauh lebih beruntung dari pada dewi, karena paling tidak saya sudah pernah merasakan indahnya hidup bersama kedua orangtuaku..
sedangkan dewi bahkan tidak mengenal orangtuanya..
saya :"yaa dan kamu juga membuat aku iri wi" saya menimpali
dewi :"maksudmu gimana zal?"
saya :"kamu bisa sekuat ini walaupun sendirian"
dewi :"iya dulu aku sendirian,tapi sekarang aku gak sendirian lagi zal"
saya melihat kearah dewi yang sedang tersenyum kearahku,
saya :"yaa kamu gak sendirian lagi, berjanjilah kita akan selalu menguatkan satu sama lain wi, kamu teman yang baik"
dewi :"begitu juga dengan kamu zal, kamu juga teman yang baik"
kami saling memandang untuk beberapa saat, sampai saya harus kembali fokus mengemudi menuju ke alamat lamaku,
masih ada seorang yang ingin saya temui, dann siapa lagi kalau bukan Sari......
....
...
rumah bercat warna hijau pupus itu mengingatkanku kepada masalalu, tempat ini yang menemaniku tumbuh selama 12 tahun, 2 anak laki yang sepertinya kembar sedang bermain disitu, mereka tampak asik mengayunkan ayunan tua yang dulu sering saya pakai bermain bersama sari..
ya,, saya dan dewi sudah sampai di rumah yang dulu saya tempati dan kini sudah ada penghuni baru menghuni rumah dinas tentara ini..
Dewi :"ini dimana zal??"
saya :"ini rumahku yang dulu wi, udah pernah aku ceritain kan??, aku pengen ngenalin kamu keseorang temenku yang belum sempat aku ceritain ke kamu"
saya mengajak dewi turun dari mobil, dan mendekati rumah itu,
"halooo dek... ayah atau ibuknya ada enggak?"
saya menyapa kedua anak yang memang kembar itu,
"ada om" saut salah satu anak yang langsung berlari masuk kedalam rumah sambil berteriak2 memanggil ibunya, sementara kembaranya dengan malu2 masih berada diatas ayunan,
"iya mas ada yang bisa dibantu??" seorang ibu muda berbicara sambil menghampiri kami, kamipun menyalami ibu itu.
"saya rizal bu, dan ini teman saya dewi, maaf menganggu waktunya, dulu keluarga saya tinggal di rumah dinas ini sebelum keluarga ibu, jadi boleh tidak saya mampir sekedar nostalgia dengan rumah ini?"
saya berbicara dengan sopan, dan berharap diperkenankan oleh penghuni yang baru itu,..
"ohhh,, jadi mas ini putranya pak Hartono?, wahh masuk2 mas, nama saya siti, ini suami saya sebentar lagi juga pulang, pasti seneng bisa ketemu putra pak hartono"
singkatnya kami diperkenankan bertamu oleh ibu siti, penghuni baru rumah dinas tua ini yang bertahun2 kosong setelah saya dan bapak pindah ke jogja.
beberapa hal kami obrolkan, dan yang paling sering ditanyakan adalah tentang bapaku, saya rasa almarhum bapak cukup populer di kalangan dinasnya,
saya :"oh iya buk, gimana tinggal disini betah kan?"
bu siti :"iya betah mas rizal, awalnya saya tajut juga sebelum pindah kesini karena katanya rumah ini yang paling angker, tapi yaa ternyata selama tinggal disini gak pernah terjadi apa2"
saya tersenyum mendengar jawaban bu siti, alhamdulillah makhluk2 halus itu tidak berani lagi mengganggu..
saya :"ohh iya bu, boleh saya ke halaman belakang?? saya mau liat tempa bermain saya dulu waktu masih kecil, kangen"
bu siti :"ohh iya mas rizal, silahkan, saya ngabari suami dulu.. harusnya sudah pulang tak susul ke kantornya sebentar, jangan buru2 pulang dulu ya"
bu siti tampak senang dengan kunjungan saya, apakah suami bu siti adalah teman bapak saat berdinas? mungkin begitu..
saya dan dewi diantar ke halaman belakang dan bu siti berlalu menuju kantor dinas suami beliau yang tidak jauh dari sini..
"zal.. mereka banyak banget, katamu mau ketemu temen disini, tapi kok...." wajar dewi bingung saya belum menjelaskan teman seperti apa yang saya maksud itu,
dan didepan kami para "penghuni" lama lingkungan sini sudah memperhatikan kami, makhluk2 yang suka menerorku saat saya kecil mereka bersliweran, mulai dari pocong,
dan makhluk berbulu lebat itu tampak terheran2 saya kembali kesini...
mereka ketakutan, mungkin mereka mengira saya akan membalas mereka.. saya yang sudah bisa mengendalikan ilmu batin seperti sekarang sudah lebih dari cukup untuk menghadapi makhluk2 itu,,
saya belum menjawab pertanyaan dewi yang tampak gelisah, saya berkonsentrasi untuk meningkakan ilmu batin yang saya punya, sudah lama sekali saya tidak melakukan ini,
mereka kalang kabut melihat saya, saya tidak akan mengusir mereka, saya hanya ingin menggertak mereka agar idak macam2..
saya :"kamu akan tau wi, dia adalah teman yang melindungiku saat aku kecil"
dewi :"jangan2?? ...."
saya mengangguk pelan dan mengajak dewi ke halaman.... sari dimana dia?? dia belum kelihatan..
"zall, mungkin dia yang kamu cari" dewi lebih dulu menyadari kehadiran sari dibelakang kami, dia muncul dari semak2 belakang yang sampai saat ini memang masih rimbu dengan pepohonan..
saya :"sarii "
dewi sedikit takut rupanya, dia memegang lenganku...
"rizal kini sudah dewasa, aku senang kamu mengunjungiku, dan apa kamu membawa teman yang sama istimewanya denganmu?"
sari melayang mendekati kami dia dengan sekejab berubah wujud dari anak kecil menjadi perempuan yang seolah seumuran denganku,
risa.. benar2 mirip dengan risa yang saya lihat semalam, sari dan risa, kalau reinkarnasi itu benar adanya mungkinkah risa adalah reinkarnasi dari sari?
sari :"apa yang membuatmu kesini rizal?, bukankah kehidupanmu sekarang sudah sempurna?"
saya :"yaa hidupku sekarang sudah lebih baik, tapi bukankah itu semua juga berkatmu sari?, dan aku juga masih punya hutang denganmu"
sari :"kamu yang berusaha zal, aku hanya menemanimu saat kecil dan sekarang kamu sudah cukup dewasa dan kuat untuk menghadapi apapun, bukankah sudah pernah aku bilang kalau kamu akan jadi orang besar besok,
dan mengenai janjimu, kamu belum bisa menepatinya sekarang, akan ada waktu sendiri aku menuntut janjimu"
saya :"tidak kah kamu memberitauku aku harus bagaimana? dan apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
sari :"udah kubilang belum saatnya, beberapa tahun lagi, bersabarlah"
saya mengangguk pelan, saya mencoba menerima jawaban sari yang benar2 membuat saya bingung dan penasaran..
saya :baiklah, aku bakal nunggu kamu ya
sari tersenyum, masih seperti dulu kehadiranya selalu diiringi wangi melati..
sari :"dan siapa temanmu yang baik ini??" sari berbicara sambil melihat kearah dewi
dewi :"namaku dewi "
sari :"hmm.. tolong teruslah menjadi teman rizal ya, kamu perempuan yang sangat baik"
dewi tampak sama sekali tidak takut sekarang..
saya :"sari apakah kamu......"
"kamu sudah bisa bisa menghadapi masalahmu sendiri zal, sebaiknya jangan terlalu dekat denganku lagi, hadapi hidupmu.. kamu manusia yang hebat, aku harus pergi...
jangan menemuiku lagi zal kalau tidak ada sesuatu yang sanga penting, hiduplah bersama kaum mu, dan ingatlah janjimu, terimakasih.. sampai jumpa beberapa tahun lagi, dewi sampai jumpa, kamu bahkan lebih kuat dari pada rizal, kamu harus mengajarinya"
sari membalikan badanya, dan kembali berwujud anak kecildan berlari kererimbunan.
saya bahkan belum sempat menyelesaikan kalimat saya, kenapa dengan sari??
"sari,, dia merasa tersiksa zal" dewi berbicara disebelahku,
saya :"apa maksudnya wi??"
dewi :"entahlah, aku merasa dia tersiksa disini"
saya :"trus sekarang aku bisa apa? dia bahkan gak bilang aku harus gimana"
dewi :"dia udah bilang tadi zal"
saya :"haa??"
dewi :"dia bilang kamu harus bersabar sampai saatnya kamu bantu dia"
saya berpikir jawaban dewi ada benarnya...
"haloo, kamu rizal ya??"
kami sedang berdiri di halaman belakang sampai ada seseorang berseragam dinas harian tentara yang menyapa kami.
beliau adalah pak Sangadi, penghuni rumah dinas ini,,
beliau tampak senang dengan kunjunganku, kami banyak ngobrol dan dari obrolan kami saya tau ternyata pak sangadi ini adalah teman satu angkatan almarhum bapak saat pendidikan militer dulu.
beliau juga mengatakan begitu merasa kehilangan saat mendengar kabar bapak meninggal secara tragis..
"dulu sebelum pindah tugas ke semarang, saya tugas di jakarta, awal ditawari tinggal dirumah dinas ini saya menolak, tapi begitu tau kalau rumah ini dulu dihuni Hartono dan keluarga saya langsung mengiyakan"
pak sangadi bercerita tentang masa muda beliau bersama bapak dulu, saya selalu tertarik dengan cerita tentang masa muda bapak yang dituturkan oleh orang lain, ternyata bapak adalah sosok panutan dari banyak orang.
sungguh bahkan setelah bertahun2 kematianya beliau masih mebuat saya takjub sampai sekarang..
singkat cerita saya dan dewi pamit untuk kembali pulang kerumah..
dewi :"bapak kamu ternyata orang yang hebat ya zal"
saya :"akupun gak menyangka beliau tetap disanjung setelah sekian lama kepergianya"
dewi :"andai aku punya keluarga kandung"
saya :"besok kamu akan membuat keluarga bahagiamu sendiri"
dewi :"iya zal. aku akhir2 ini sering berkhayal, kalau besok aku punya anak, maka tidak akan aku biarin dia senasib sama aku sekarang, aku akan terus jaga dia"
saya mengangguk2 sambil tersenyum mendengar celotehan dewi yang menurut saya terlalu jauh pikiranya..
dewi :"hehh kenapa?? senyam senyum terus, aku berlebihan ya??"
saya :"ahaha egak wi, kamu bener kok, cuma sekarang aku belum mikir sampe situ"
dewi :"kamu sihh, kita udah 20 tahunan, harus mikir dari sekarang dong"
saya kembali setuju dengan logika2 yang diberikan dewi, anak ini benar2 membuat saya kagum..
tak terasa saya sudah sampai didepan pintu rumah, saya sudah memarkirkan mobil ke garasi, dan begitu saya mau masuk kedalam rumah di pintu depan sudah tertempel tulisan pada selembar kertas yang berbunyi
"MAS!! KAMU diMANA?? KENAPA GAK NEMUIN AKU?, KAMU PULANG GAK BILANG DAN SEKARANG NGILANG KEMANA?, KENAPA NITIP SURAT KAYAK GITU KE AYAH?? APA MAKSUD SURATMU MAS? MAS POKOKNYA CEPET HUBUNGI AKU,AKU SEMALEMAN NUNGGU KAMU DISINI SAMPE PAGI, AKU BALIK KESINI SETELAH PULANG KAMPUS!
-risa"


=== Cerita Selanjutnya ===
Read more